Most Post

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya                 Masa KH Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh).                 Riwayat...

Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2011

Diantara Orang Yang Menolak Tasawuf


Diantara orang yang menolak Tasauf

            Sudah mulai bermunculan orang membuat/mencetak buku yang ber isikan menolak tasauf, atau menolak torekat. Mereka merasa bahwa menurut ilmu penge tahuan mereka tasauf adalah salah, alasannya sangat bermacam-macam, namun bagi orang yang mendalami tasauf  kelihatannya biasa-biasa saja.
           
            Diantara mereka ada yang mengemukakan bahwa manakib atau kisah manakib adalah tidak benar, karena akal tidak akan dapat menerimanya. Bagi mereka yang menggunakan kisah manakib, kemudian meneliti juga, ternyata hasil mereka mengemukakan bahwa kitab manakib itu isinya menyangkut seluruh segi kehidupan dsari pada seorang Syekh  yang antara lain :
1.      Segi riwayat tentang jerih payah seorang Syekh dalam mencari ilmu-ilmu seperti Ilmu Fikih, Ilmu Adab, Ilmu Hadits, Tafsir, Ilmu Thariqat, sehingga beliau menjadi dikenal sebagai ulama besar yang mahir soal ilmu alat dan lain-lain.
2.      Segi mengenai bagaimana keteguhan hati beliau dalam memegang ketentuan hukum Allah, terhadap yang haram tetap haram dan yang halal tetap halal, ( baca kisah mengaku-ngaku sebagai Tuhan kepada Syeh Abd Qodir Al Jaelani
3.      Segi kekeramatannya, karena sudah bukan rahasia lagi bahwa Syekh Abd Qodir Al Jaelani adalah seorang Waliyullah.
4.      Segi tentang kehidupan bermasyarakat Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Bagaimana sikap, tindak tanduk dirinya dalam menghadapi guru yang pernah mengajarkannya ilmu itu, demikian juga sikap beliau  terhadap orang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat kecil  dan sebagainya.

Dari sini kita tahu bahwa kitab-kitab yang menjelaskan  tentang manakib adalah memberikan penjelasan bukan hanya kekeramatannya saja melainkan banyak segi-segi lainnya yang dijelaskan didalamnya. Tetapi sebagian orang membacanya hanya berkisar kepada yang mengenai kekeramatannya saja, mereka tidak teliti  sehingga berani mengatakan  kitab manakib seperti itu merusak Aqidah Islam.
           
            Sejak zaman sebelum Rasulullah saw lahir dan sesudah wafatnya manakiban sudah ada dan diterangkan dalam Al Qur’an. Contoh manakib yang ada dalam Al Qur’an seperti  manakib Maryam, Dzul Qornain, Ashabul Kahfi,  dan lain-lain. Dan setelah Nabi wafat banyak kita dapati manakib dalam hadits shahih seperti manakib Abu Bakar, Umar, Ali, Hamzah, Abi Sa’id, At Tijani, Syekh Abdul Qodir, dan sebagainya.  Dan dalam Al Qur’an pun disebutkan
وَمِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ  عَلَيْكَ  المؤمن 87
“Sebagian dari mereka telah aku ceriterakan kepadamu dan sebagian lainnya  belum aku ceruterakan kepadamu “

ayat ini diperkuat dengan ayat lain sbb:
وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللهُ مُسَى تَكْلِيْمًا النساء 164
Dan Kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan  tentang mereka kepadamu .Dan Allah telah berbicara kepada Musa  dengan langsung.

Dari ayat ayat diatas bila diteliti dapat diambil  beberapa pengertian sebagai berikut :
1.      Kita dianjurkan Allah untuk bangkit mengadakan penelitian sejarah, baik dari sumber Al Qur’an, Al Hadits atau dari sumber lain yang dapat dipercaya.
2.      Bila sejarah sudah diteliti maka hasilnya dianjurkan untuk diceriterakan  kepada umat secara lisan maupun tulisan.
3.      Terjadinya pengertian itu karena banyak sekali sejarah para Nabi, sejarah Shalihin, sejarah Auliya,  yang belum diterangkan Allah dalam Al Qur’an

            Berdasarkan hasil penelitian yang bersifat hipothesis, telah membuktikan bahwa pada zaman permulaan Islam di Indonesia terutama di Jawa  para mubaligh Islam yang dipimpin oleh walisongo telah mengajarkan kepada masyarakat Islam tentang ilmu tarekat , manakib dan amalan –amalan lainnya yang selaras denngan itu  Praktek seperti ini ternyata berjalan dan berkembang  terus sampai sekarang bahkan oleh masyarkat Islam hal tersebut  dijadikan sebagai sarana  dakwah  Islamiyah. .    

Praktrek upacara manakib terus berkembang, dan disatu tempat dengan tempat lain dapat berbeda, namun hanya kaifiyat saja, sedangkan intinya sama misal: Disatu tempat melaksanakan manakib dengan disiapkan dahulu makanan makanan yang tertentu misal ada tumpeng, panggamh ayam, dan lain lain, dan setelah selesai  makanan itu dimakan bersama sama dan, sisanya dapat dibawa pulang masing-masing.

Ditempat lain tidak demikian melainkan cukup dengan kaum muslimin berkumpul dan upacara dimulai dan salah satu isi acaranya adalah membacakan Layang Syeh (sejaran Syeh Abdul Qodir Jaelani).Setelah selesai ada sekedar makanan yang bukan diada-adakan  dan mereka makan bersama.
Ditempat lain melaksanakan manakiban kalau ada kepentingan , misal mau hitanan anak atau mau menikahkan, atau sedang  mengadakan syukuran karena mendapat nikmat. Yang demikian biasanya bentuknya adalah berupa pengajian atau tablig Agama Islam.
Pada tempat-tempat lain pun ada juga yang berbeda beda, dan disini tidak akan diuraikan dari bentuk bentuk lain karena keterbatasan. Tapi yang jelas bahwa dalam upacara manakiban dibacakan sejarang seorang tokoh Islam, dan biasanya yang dibacakan adalah sejaran Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. 

            Maksud mengadakan upacara manakib.
Upacara manakib iani mempunyai istilah yang berbeda-beda misal disatu tempat disebut dengan  manakiban  ditempat lain disebut dengan pembacaan layang syeh di tempat lain disebut dengan  Dulqodiran  dan mungkin ada lagi istilah yang digunakan masyarakat. Mereka mengadakan manakiban masing masing mempunyai maksud yang diantaranya :
1.      Untuk menghormati mencintai dzurriyah Nabi Muhammad saw seperti dinyatakan dalam Al Qur'’an
قُلْ لاَ اَسأَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِى الْقُلُوْبْ الشورى 23
Sesungguhnya Aku tidak meminta  kepadamu  sesuatu apapun atas seruanku , kecuali kamu berkasih sayang  terhadap keluarga,

Pengertian keluarga disini adalah keluarga Nabi saw, pernah dalam persdoalan ini diantara shahabat ada yang bertanya tentang keluarga dan Nabi saw menjawab:  keluarga Ali bin Abi Talib beserta Fatimah, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan kelu-
Arga Abbas.
2.      Untuk mencintai para Solihin, Auliya dan lain-lain. Sebagaimana anjuran Nabi saw  (dalam Fathul Baari)
مَنْ عَادَى لِى وَلِيًا فَقَدْ اَذَنْتُهُ  بِالْحَرْبِ   رواه البخارى  عن ابى هريرة
Siapa saja yang memusuhi Wali Ku  maka Aku umumkan perang  kepadanya.
3.      Untuk mendapat berkah, sebagaimana di terangkan dalam kitab Gausul ‘Ibad , yang disusun oleh Abus Shoif, halaman 32 
لَقَدْ رَاَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ أُمَّ سُلَيْمْ تَجْمَعُ عَرَقَهُ فِى اَنِيَةٍ مَعَهَا وَكَاْنَ نَائِمًا فَاسْتَيْقَظَ وَقَاْلَ : مَاْ ذَاْ تَصْنَعِيْنَ يَا أُمَّ سُلَيْم , فَقَاْلَتْ  هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِىْ طِيبِنَا وَهُوَ اَظْيَبُ الطِّيْبِ , وَفِى رِوَايَةٍ اَنَّهَا قَالَت: يَا رَسُلَ اللهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا فَقَالَ لَهَا عَلَيْهِ  الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
مُقِرًّا  وَمُشْجِعًا وَمَادِحًا : أَصَبْت.     رواه الشيخان  والنسائى
Rasulullah saw melihat Ummu Sulaim mengumpulkan  air keringatnya Nabi saw dalam satu tempat  dimana Nabisedang tidur, tiba-tiba Nabi terbangun seraya berkata “apa yang kamukerjakan hai Ummu Sulaim ?. Jawabnya “ air keringatmu ini akan ku jadikan wangi wangian, karena ini wewangian yang paling harum. Dalam satu riwayat  Ummu Sulaim menjawab “Hai Rasulullah aku berharap barakahnya air keringatmu ini untuk anak anakku . Nabi bersabda dengan pernyataan  yang penuh kesungguhan sambil memuji “ Silakan kamu “
4.      Untuk bertawasul  dengan Syekh Abdul Qodir Jaelani karena Allah semata.
يَا يُهَا الذِّيْنَ اَمَنواْ اِتَّقُوُا اللهَ وَابْتَغُواْ اِلَيْهِ الْوَسِلَةَ  وَجَهِدُوأ فِى سَبِيْلِهِِ لَعَلكُمْ تُفْلِحُوْنْ المائدة 35
Hai orang-orang yang beriman, patuhlah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan kepadaNya  dan berjuanglah dijalan Allah  supaya kamu menjadi  orang yang beruntung .
5.      Diantara mereka ada juga yang bernadzar

_________
Sumber : Imron ABA .

Dzikir Fida Atau 'Ataqoh


            Dzikir fida atau ‘Ataqoh .
Ataqoh ini dilaksanakan dalam rangka membersihkan jiwa  dari kotoran atau penyakit- penyakit jiwa.Bahkan cara ini dikerjakan oleh sebagian tarekat  sebagai penebus harga surga, atau penebus pengaruh jiwa  yang tidask baik (untuk mematikan hawa nafsu).

            Bentuk cara ini (‘ataqoh) adalah seperangkat amalan tertentu yang dilak sanakan dengan serius (mujahadah), seperti membaca surat Al Ikhlash sebanyak  100.000, atau membaca kalimah tahlil dengan cabangnya sebanyak 70.000 kali dalam rangka penebusan nafsu amarah atau nafsu nafsu yang lain. Dalam pelaksanaannya ‘ataqoh dapat diangsur. Fida atau ‘ataqoh ini dilaksanakan oleh masyarakat  santri di Pulau Jawa  untuk orang yang sudah meninggal dunia.

            Mengamalkan syari’at .
Dalam tarekat kebanyakan merupakan jam’iyah para sufi sunni, menetapi syari’at  merupakan bagian dari tasauf (meniti jalan mendekati kepada Tuhannya), karena me nurut keyakinan para sufi sunni  justru prilaku  kesufian  itu dilaksanakan dalam rang ka mendukung tegaknya syari’at. Sedangkan ajaran ajaran dalam agama Islam  khu susnya dalam peribadatan mahdoh merupakan media atau sarana  untuk member sihkan jiwa seperti halnya bersuci dari hadats shalat puasa maupun haji .

            Melaksanakan amalan amalan sunat.
Diantara untuk membersihkan jiwa adalah melaksanakan segala amalan sunat,  hal ini diyakini bahwa dapat membantunya. Dan amalan – amalan yang dapat membantunya memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tazkiyatun nafsi, se perti membaca Al Qur’an dengan merenungkan artinya dan maknanya melaksanakan shalat malam (bertahajud, berdzikir dimalam hari, banyak berpuasa sunah dan bergaul dengan orang2 yang shaleh.

            Berprilaku zuhud .
Ini juga dapat membantu/mendukung upaya tazkiyatun nafs, karena berfikir zuhud  adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta, dan waro’ adalah  sikap hidup yang efektif, orang yang berprilaku demikian tidak berbuat sesuatu kecuali  benar-benar  halal dan benar benar dibutuhkan.Dan rakus terhadap harta benda akan mengotori jiwa, demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan  makanan yang syub hat dan berkata sia sia akan memperbanyak dosa dan menjauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah 

           

            Sumber : Kharisudin Aqib .

By Abu Bakar Bin Ahmad Mansor
(S.Kom.I., C.SHOT., CH., CHt., NNLP)

Kamis, 18 Agustus 2011

Betulkah Orang sufi Bodoh



Dalam kitab Al Luma’  yang disusun oleh Abu Nashor Al Syiroj Al Tusi  diterangkan bahwa  orang-orang atau para imam tidak seorangpun yang menolak bahwa dalam Al Qur’an ditulis ayat-ayat yang berbunyi :

اَلصَّادِقِيْنَ  وَالصَّادِقَاتِ , وَالْقَانِتِيْنَ  وَالْقَانِتَاتِ , وَالْخَاشِعِيْنَ , وَالْمُوْقِنِينَ , وَالْمُخْلِصِينَ ,
وَالْمُحْسِنِينَ , وَالْخاَئِفِيْنَ , وَالرَّاجِيْنَ , وَالْوَاجِلِيْنَ , وَالْعَابِدِينَ , وَالسَّائِحِينَ , وَالصَّابِرِينَ
وَالرَّاضِينَ , وَالْمُتَوَكِّلِينَ , وَالْمُخْبِتِينَ , وَالاَْوْلِيَاء , وَالْمُتَّقِيْنَ , وَالْمُصْطَفِينَ , وَالْمُجْتَبِينَ
وَالاْ َبْرَار , وَالْمُقَرَّبِينَ                                                               
“1.Orang-orang shidiq,(laki-laki yang selalu benar/tidak pernah bohong) 2.Orang-orang shodiqot,(perempuan-perempuan yang yang selalu /tidak pernah bohong), 3.Orang-orang yang ta’at (laki-laki yang selalu taqwa’at melakukan shalat), 4.Perempuan-perempuan yang selalu taqwa’at melakukan shalat, 5. Orang-orang yang shalatnya selalu khusyu’, 6. Orang-orang yang meyakini  adanya Allah yang disifati dengan laisa kamislihi syaiun, 7. Orang-orang yang secara ikhlash berbuat apa saja baik dalam perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan maupun yang berhubungan dengan makhluk, 8. Orang-orang yang selalu berbuat kebagusan, 9. Orang-orang yang selalu merasa  takut akan bertindak salah , 10. Orang-orang yang selalu mengharap keridoan Allah swt, 11. Orang-orang yang kalbunya selalu merasakan takut bila mendengan sesuatu berita dari Allah (berita tentang Al Qur’an) 12. Orang-orang yang selalu beribadah dengan cara yang benar dan teratur, 13.Orang-orang yang melawat untuk mencari ilmu pengetahuan, 14. Orang-orang yang selalu bersabar apabila mendapat kesulitan atau bencana, 15.Orang-orang yang selalu rido terhadap apa yang ditakdirkan Allah swt, 16.Orang-orang yang selalu bertawakkal dalam menempuh bahtera  kehidupan, 17. Orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, 18. Orang-orang yang menjadi kekasih Allah, 19. Orang-orang yang selalu bertaqwa kepada Allah swt, 20. Orang-orang yang menjadi pilihan Allah, 21. Orang-orang pilihan Allah, 22. Orang-orang yang bagus akhlaknya, 23. Orang-orang yang dekat kepada Allah”.

Dari bukti ayat- ayat tersebut diatas menjadi jelas bahwa orang-orang sufi adalah bukan orang-orang bodoh, walaupun orang yang mengikuti jejak orang sufi ada juga yang bodoh. Dan kalau kita lihat atau kita saksikan mereka yang sekarang ada adalah memang orang-orang yang cukup banyak menguasai ilmu-ilmu yang beraneka ragam walaupun banyak ragam tersebut tidak dimiliki oleh seorang sufi, tetapi dimiliki oleh banyak orang.
            Allah swt pun menyebutkan dalam surat Qof ayat 37
أَوْ أَلْقَى  السَّمْعَ وَهُوَ  شَهِيدْ                                                        
“……….atau  yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Orang-orang sufi menjadi saksi dengan menggunakan pendengarannya secara positip tidak seperti orang yang mendengar dari telinga kanan keluar dari telinga kiri. Mereka sangat tanggap kepada Al Qur’an dan Al Sunnah, mereka sangat suka melakukan banyak ibadah, banyak mau bekerja, bukan pemalas. Mereka sambil melakukan tugas yang mereka terima sebagai beban hidup yang berhubungan dengan manusia dan yang berhubungan dengan Tuhan, mereka sadari, mereka lakukan dengan  tekun, karena mereka juga tahu apa halal dan apa haram. Orang sufi adalah orang yang tekun kerja dan selalu ingat kepada Sang Maha Pencipta, yaitu Allah swt karena kalbunya selalu terkait kepada Allah maka mereka  selali tumaninah, ini diakui dalam Al Qur’an Surat Al Ro’du ayat 28.

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ                                                         
“Ketahuilah bahwa berdzikir kepada Allah dapat menenangkan kalbu”.

Selain itu juga Allah memasukkan kedalam golongan orang-orang Al Sabiqun, yaitu orang-orang yang terdahulu walaupun kenyataannya sekarang, mereka selalu menempuh jalan yang lurus untuk mencapai tujuan. Mereka  orang-orang yang cepat-cepat atau selalu bersegera dalam menempuh kebaikan sesuai dengan sabda Nabi saw:

اِنَّ مِن أُمَّتِى مُكَلِّمِيْنَ وَمُحَدِّثِيْنَ وَاِنَّ عُمَرَ مِنْهُمْ  رواه احمد والشيخان                    
“Sesungguhnya diantara umatku ada orang-orang ahli kalam dan orang-orang ahli hadits, dan sesungguhnya Umar termasuk didalamnya”.

Umar bin al Hottob adalah salah seorang shahabat yang juga dicontoh diteladani oleh orang-orang sufi, beliau adalah ahli dalam Al Qur’an dan sirah Nabi saw. Dalam hadits ini Nabi sendiri mengakui keahliannya, dan beliau seorang sshahabat yang banyak sekali berijtihad yang karena belum dilaksanakan dimasa Rasulullah saw tetapi dimasanya harus ada, seperti dimasa Rasulullah saw belum ada kalender, kemudian beliau menentukan kalender dan lain sebagainya. Halyang seperti ini tidak bertentangan dengan Al-Qur’an bahkan diharuskan sesuai dengan sabda Nabi saw:

مَن يُرِدِ اللهُ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِى الدِّينِ  رواه الشيخان                                       
“Barangsiapa yang Allah menghendaki untuk memahami sesuatu maka Allah memberikan kefahaman dalam agama”.

            Nabi sendiri memberikan petunjuk kepada Wabisoh dikala Wabisoh memerlukan petunjuk Nabi, tetapi beliau  malah memberikan jawaban
اِسْتَفْتِ  قَلْبَكَ  رواه حارث بن مالك                                               
“Mintalah fatwa kepada kalbumu” .

Nabi menyatakan bahwa Tolk bin Hubaib seorang yang apabila apabila Al-Qur’an dibacakan dia kelihatan merasa takut sekali. Dan Nabi menyatakan bahwa umatnya akan masuk surga sebanyak 70.000 yang tanpa hisab, ketika ditanyakan kepadanya  “siapa mereka ya Rasulallah ? “ beliau menjawab mereka adalah orang orang yang tidak memuji diri (membual) dan tidak pernah membuat/memakai mantra, karena mereka selalu bertawakkal kepada Allah.

Selanjutnya berita-berita yang seperti ini banyak sekali, dan tidak ada hilaf pendapat bahwa mereka adalah umat Muhammad, kalau memang tidak ada yang demikian pasti maka tidak akan ada orang yang mau berdzikir kepada Allah dan Rasulullah saw tidak akan mengatakan akan ada kejadian-kejadian yang semacam ini.

Bila kita lihat bahwa sebutan iman adalah termuat disemua kaum mukminin masing-masingnya dengan namanya sendiri-sendiri  tidak perlu harus disebutkan seorang seorangnya. Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa para Nabi a.s. adalah  di atas derajat kaum mukminin, artinya mereka para Nabi yang lebih tinggi derajatnya dibanding hanya dengan kaum mukminin. Mereka adalah memang sama-sama manusia  yang sama-sama membutuhkan makan minum tidur dan sebagainya sebagaimana layaknya manusia, hanya saja mereka dijaga Allah dari melakukan perbuatan dosa. Para Nabi mendapat wahyu, mendapat titel kerasulan  mendapatkan tanda-tanda kenabian. Hal-hal yang khusus seperti ini tidak ada pada manusia biasa.
Sumber : Al Luma’

By Abu Bakar Bin Ahmad Mansor 
(S.Kom.I., C.St., CH., CHt., NNLP.,)

Perkembangan Tasawuf


Masa Tasauf abad ke II H dan ke IV H .

            Dari cara hidup zuhud pada abad ke 1 dan ke 2 H, maka dimulailah kajian-kajian kesufian pada abad ke 3 dan ke 4 H. Dalam kajian tersebut terdapat dua kecenderungan para tokoh. Pertama, cenderung pada kajian tasauf yang bersifat akhlak, yang didasarkan pada Al-Qu’ran dan Sunnah (tasauf Sunni). Kedua cenderung pada kajian tasauf filsafat dan banyak berbaur dengan kajian filsafat metafidika.

            Tokoh-tokoh dari kelompok pertama misalnya Haris Al Muhasiby (Basroh 165 H – Bagdad 243 H ). Ia banyak mengkaji dan mengajarkan disiplin diri (muhasabah). Pembicaraannya yang lebih rinci tentang itu tertuang dalam karyanya Al Ri’ayah lihuquqillah (menjaga hak Allah). Yang banyak mempengaruhi Al Gozali dalam menyusun karyanya, Ihya ulumuddin (menghidupkan ilmu agama). Disamping karya tersebut, al muhasiby juga menulis Al Washoya yang mengkaji ulasan tentang zuhud. Sedang bukunya Al Tawahum menyuguhkan kedasyatan maut dan hari pembalasan. Adapun kehalusan dan kemurnian cinta ketuhanan dituliskan secara artistic didalam Fasl fi al mahabbah (penjelasan tentang konsep cinta).

            Tokoh lainnya adalah Sirri al Saqity, Abu Aly al Ruzbary dan Abu Zaed al Adami. Disamping itu terdapat pula Abu Sa’id Al Khoroz yang banyak menumpahkan kajiannya pada maqom dan hal, Sahl al Tastary yang terkenal dengan kehusuannya dalam beribadah dan berdisiplin diri dan Al Junaed al Bagdady (w 289 H) yang paling populer dan mempunyai analisis yang dalam tentang tauhid dan fana dari kalangan tokoh sufi sunni. Baginya memperdalam pengenalan kepada Allah swt harus bersamaan dengan peningkatan amal dan disiplin diri. Al Junaed mewariskan ilmunya itu kepada murid-muridnya. Diantara murid-muridnya yang masyhur ialah Abu Bakar Al Syibly.

Dalam lingkungan aliran pertama ini muncul 3 orang penulis tasauf yang buku-bukunya masih dapat ditemukan dewasa ini. (1) Abu Nashr al Sharoj al Tusi (w 387 H). Ia seorang penulis kitab besar dan fundamentalis dalam judul kitab Al Luma’. (2) Abu Talib Al Maky (w 386 H) membuktikan pula keafsahannya doktrin dan praktek sufi dalam karyanya Qut al Qulub. (3) Abu Bakar Al Kalabazy, penulis buku kecil Al Ta’aruf li Madzhab ahli al tasuf ( perkenalan para aliran ahli tasauf ). Ketiga penulis tersebut telah memperkenalkan doktrin dan praktek tasauf  yang muncul pada abad 4 H dan sebelumnya.

Sedangkan dalam aliran yang kedua dikalangan sufi filsafat terdapat pula Dzun nun al Mishry (180 – 246 H). Ia adalah seorang sufi yang juga ahli kimia, mengetahui tulisan Hieroglif Mesir Kuno, dan akrab dengan pengetahuan Hermetis  (kedap udara). Dalam buku-buku biografi  para sufi ia sering disebur sebagai tokoh legendaris. Dalam tasauf ia dikenal sebagai bapak teori makrifat. Menurutnya pengetahuan tentang Tuhan mempunyai tiga tingkatan yaitu : (1) pengetahuan awwam, yaitu pengetahuan tentang Tuhan  dengan perantara ucapan syahadat, (2) pengetahuan ulama, yaitu pengetahuan tentang Tuhan dengan alat logika dengan akal, (3) pengetahuan sufi (‘arif), yaitu pengetahuan tentang Tuhan dengan hati sanubari. Pengetahuan sufu ini disebut juga dengan makrifat, yakni kemampuan hati sanubari untuk melihat Tuhan. Kemampuam itu sendiri berasal dari Tuhan pula, orang yang telah mencapai pengetahuan ini di sebut arief.

Tokoh lain yang paling berani dari kelompok tasauf filsafat adalah Abu Yazid al Bustomy (w 260 H), yang secara terus terang mengungkapkan al sakr (mabuk ketuhanan) ,fana dan baqo (peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri Ilahy), dan ittihad (bersatu dengan Tuhan). Bagi Al Bustomi seorang sufi yang begitu dekat dengan Tuhan akan lebur dan bersatu dengan Nya. Ketika itu yang diucapkan bukan lagi perkataan sendiri melainkan perkataan Tuhan. Dalam keadaan demikian Abu Yazid Al Bustomi mengucapkan kata-kata ganjilnya:” Sesungguhnya aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku”.Ucapan-ucapan demikian di sebut syathahat (mufrodnya syatah), yaitu ucapan sufi ketika ia dalam ekstasi (mabuk ketuhanan). Puncak tasauf filsafat abad ke 3 dan ke 4 h ini terletak pad Husen bin Mansur al Hallaj (244 – 309 H). Ia merupakan tokoh yang paling kontropersial didalam sejarah tasauf dan akhirnya menemui ajalnya di tiang gantungan.

Teori tasauf yang dikembangkan oleh al Hallaj ialah al hulul yakni faham yang menyebutkan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada didalam tubuh itu dilenyapkan. Bagi al Hallaj didalam diri manusia terdapat sifat-sifat kemanusiaan (an nassut) dan sifat-sifat ketuhanan (al lahut). Bila manusia telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan dari dirinya dengan jalan fana, maka akanlah tinggal didalam dirinya yang disebut al hulul.

Teori lain yang dikemukakan oleh Al Hallaj ialah teori al haqiqoh al muhammadiyah (Nur Muhammad) yaitu pandangan bahwa Muhammad mempunyai dua rupa. Rupa pertama ialah yang qodim, dari padanyalah muncul alam ini sedangkan rupa yang kedua ialah muhammad sebagai manusia, nabi, dan rasul Allah swt. Muhammad dalam bentuk pertamalah yang dikatakan Nur Muhammad, yang tidak mengalami kematian, karena qodimnya. Perbedaan qodimnya dengan qodim dzat Allah hanya dari segi sebutan.

Salah satu yang menandai kemapanan tasauf pada abad ke 3 dan ke 4 H ini ialah munculnya tareqat-tareqat sufi dalam bentuknya yang paling awal. Tareqat itu dalam prakteknya mempunyai seorang syekh mursyid (pimpinan tareqat) atau pir. Seorang syekh diikuti oleh seorang pengikut yang disebut murid, salik atau darwis. Mereka tinggal dalam sebuah pondok yang disebut ribath atau khanqah. Murid yang telah selesai latihan dan mendapat ijazah dari syekhnya yang disebut khirqoh yang berupa jubah atau sobekannya. Murid yang telah dapat khirqoh sudah boleh menjadi khalifah (wakil syekh) pada cabang tareqat tersebut.

Tareqat yang muncul pada masa ini ialah tareqat mulamatiah atau Al Qossariyah yang dinisbatkan kepada Hamdun al Qossar, Tareqat Taefuriyah yang dinisbatkan kepada Abu Yazid Al Bustomy, Tareqat Al Khorroziyah yang dinisbatkan kepada Abu Sa’id al Kharraz, Tareqat Al Nuriyah yang dinisbatkan kepada Abu al Husen an Nuri (w 295 H) seorang sufi yang banyak menulis puisi tasauf. Dan tareqat Al Hallajiah yang dinisbatkan kepada Mansur al Hallaj.

Perkembangan tasauf pada abad ke 5 H

Setelah Al Hallaj meninggal, semakin tenggelamkah tasauf filsafat, sementara tasauf sunni semakin mendapat tempat dihati masyarakat. Abad ke 5 H boleh dikatakan sebagai masa kemunduran tasauf filsafat dan berjayanya tasauf sunni. Hal ini terutama didukung oleh  keunggulan Asy’ariyah dalam teologi yang sejalan dengan tasauf sunni.
          
Al Qusyairy

Diantara tokoh tasauf yang muncul pada abad ke 5 H adalah Abu Qosim Abdul Karim al Qusyairi (376 – 466 H), penulis Al Risalah al Qusyairiyah sebuah kitab tasauf yang mengangkat kerangka teoritis tasauf walaupun kajiannya agak umum dan ringkas. Oleh sebab itu buku tersebut banyak mendapat perhatian para ulama tasauf sesudahnya.

            Abu Ismail  

Tokoh lain yang muncul pada masa ini adalah Abu Ismail bin Muhammad al Anshory al Harawy (396 – 481 H) dengan karyanya Manazil as Sairin ila Rabbil alamin (kedudukan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah swt.) Dalam karyanya yang ringkas tersebut ia menguraikan maqomat para sufi yang menurutnya mempunyai awal dan akhir. Makam terakhir tidak akan bisa berdiri utuh kecuali diatas landasan awalnya yaitu ikhlas dan dilaksanakan atas sunnah. Sebagai penganut Madzhab Hanbali
, Al Harawy terkenal sebagai penentang tasauf filsafat yang dibawa oleh al Bustomy dan al Hallaj.

Al Gozali

Puncak kecemerlangan tasauf pada abad ke 5 H adalah pada masa Al Gazali yang karena ilmu dan kedudukannya yang tinggi dalam Islam, ia bergelar Hujjatul Islam. Al Gazali menempuh dua masa kehidupan yang berbada. Pertama ketika ia dalam kondisi pemuh semangat dalam menimba ilmu, mengajar dan penuh gairah dalam kedudukan sebagai guru besar di Perguruan Nidomiyah yang senantiasa diliputi oleh harta duniawi. Kedua masa syak (ragu) terhadap kebenaran ilmu yang didapatnya dan terhadap kedudukan yang dipegangnya. Akhirnya keraguan itu terobati dengan pengamalan tasaufnya. Hal ini terjadi diakhir masa pertamanya dan merupakan masa peralihanya. Maka bagi kedua kehidupannya dijalani dengan ketenteraman dan keheningan tasauf. Pada masa inilah banyak menulis tentang tasauf.

Al Gazali mempunyai karya tulis yang begitu banyak dalam bidang tasauf. Diantaranya Ihya ulum ad Din, yang paling besar, paling popular, dan mendapat tempat dihati masyarakat serta telah diterjemahkan keberbagai bahasa. Didalam buku tersebut Al Gazali dengan ilmunya yang luas dan dalam mendamaikan teologi, fikih, dan tasauf. Ia juga membahas secara luas tentang ibadah, prilaku yang menjadi adat kebiasaan dalam kehidupan, dosa-daso yang membinasakan, dan jalan menuju keselamatan berupa maqomat dan ahwal.

Dari telaah karya-karya tasauf al Gazali kemudian Al Taftazani menyimpulkan bahwa al Gajali telah berhasil mendiskripsikan secara jelas jalan menuju Allah swt. Sejak permulaan dalam bentuk latihan jiwa, lalu menempuh fase pencapaian rohaniyah dalam bentuk maqomat dan ahwal yang akhirnya sampai pada fana, tauhid, makrifat, dan sa’adah (kebahagiaan).

Karya-karya tasauf yang berbobot lainnya oada abad ke 5 H adalah Al Tobaqotus Sufiyah (tingkatan-tingkatan sufi) oleh Abdurohman al Sulamy (w 412 H) Hilyah al Auliya oleh Abu Nu’aim Al Asfihani (w 430 H), dan Kasyful Mahjub (menyingkap tabir) oleh Ali bin Usman al Jullby al Hujwirri.

Setelah menghilang ditengah-tengah masyarakat, maka pada awal abad ke 6 H tasauf filsafat muncul kembali dalam bentuk yang lain. Suhrowardi maqtul (587 H) mencetuskan teori Hikmatul isyroq ( filsafat iluminasi). Pokok dari teori tersebut ialah bahwa Allah swt adalah cahaya mutlak yang merupakan sumber segala cahaya. Dari cahaya Allah swt itu memancar cahaya-cahaya yang lain, bahkan segala cahaya yang ada di alam ini berasal dari cahaya hakikat Nya. Apabila jiwa-jiwa telah terpancar jauh dari sumbernya, ia ingin kembali kepada cahaya asalnya. Untuk itu terlebih dahulu ia harus melalui latihan-latihan rohaniah agar ia bisa terlepas dari kungkungan kefanaan duniawi dan dapat berenang dalam samudera cahaya menuju cahaya yang hakiki.

Perkembangan tasauf setelah abad ke 5 H

Puncak perkembangan tasauf pada abad ke 6 dan ke 7 H terletak pada Ibnu Arabi dengan teori tasauf filsafatnya Wahdatul wujud, yakni teori yang memandang bahwa wujud mutlak dan hakiki itu adalah Allah swt., sadangkan wujud kainaat (alam) ini hanyalah wujud majazy (kiasan) yang bergantung pada wujud Tuhan. Dengan demikian pada prinsipnya wujud yang sebenarnya adalah satu, yakni wujud Allah swt. Sedangkan fenomena alam yang serba ganda ini hanya merupakan wadah tajalli (penampakan lahir diri) Allah swt. Teori wahdatul wujud ini diuraikan dalam bukunya Fusus al Hikam dan Al Futuhat al Makiah.

Sufi-sufi lain yang muncul pada abad ke 6 H dan ke 7 H ini umumnya mempunyai pandangan yang mirip dengan konsep wahdatul wujud Ibnu Arobi. Diantara mereka ialah Ibnu Sab’in ( 624 – 669 H) dengan karyanya Budd al Arif, Ibnu al Farid (579 – 632 H) dengan karyanya berupa kumpulan puisi sufi berjudul at-Taiyah, dan Jalaludin ar Rumi (604 – 672 H) dengan karyanya al Masnawy.

Dalam lapangan tasauf amali muncul pemuka-pemuka tarekat yang besar antara lain adalah Abdul Qodir al Jaelani (470 – 561 H) di Bagdad, pendiri tarekat Qodiriyah; Ahmad bin Ali Abdul Abbas al Rifa’I (578 H) di Iraq, pendiri tarekat Rifa’iyah; Abu an Najib as Suhrowardi (490 – 563 H) dan Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah as Suhrowardi (539 – 632 H) anak saudaranya, keduanya pendiri tarekat Suhrowardiyah; Abdul Hasan Aly as Sadzily (w 66 H) di Tunisia, Pemdiri tarekat Syadziliyah; dan Sayid Ahmad al Badawy (596 – 675 H) di Mesir pendiri tarekat Ahmadiyah.

Sesudah abda ke 7 H tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa ide tersendiri dalam pengetahuan tasauf. Kebanyakan dari mereka hanya mengembangkan ide para pendahulunya. Misalnya Abdul Karim bin Ibrahim Al Jilli (832 H) dengan bukunya Al Insan Al Kamil (manusia yang sempurna).

Ia hanya melacak kembali teori wahdatul wujud. Pada masa ini datang pula Abdul Wahad as Sya’roni (898 – 973 H) seorang sufi yang berpengetahuan luas tetapi tidak kritis dan buku-bukunya penuh tahayul serta ungkapan-ungkapan yang menonjolkan diri sendiri. Kemudian datang pula Syekh Muhammad Isa Sindhi Al Burhanpuri al Hindi (w 1030 H ) dengan bukunya yang berjudul Al Tuhfatul Mursalah (kiriman cendera mata) yang mengembangkan teori Wahdatul wujud menjadi ajaran “ Martabat Tujuh”.


By Abu Bakar Bin Ahmad Mansor
(S.Kom.I., C.St., CH., CHt., NNLP.,)

Kehidupan Para Ahli As-Suffah


              Selain keempat khalifah diatas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para ahli as suffah. Mereka ini tinggal di mesjid Nabawy di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang aqidah, dan senantiasa mendekati diri kapada Allah swt. Diantara ahli as suffah itu ialah Abu Huraerah, Abu Dzar al Gifary, Salman Al Farisi, Mu’adz bin Jabal,Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarroh, Asbdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abas, dan Hudzaefah bin al Yaman. Abu Nu’aim al Asfahani, penulis tasauf (w 430 H /1036 M) menggambarkan sifat-sifat ahli sufah didalam bukunya Huliyatul auliya (permata para wali) yang artinya “Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecenderungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban yang menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi kemanusiaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah swt. Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan matrial dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju”.

            Diantara para ahli as suffah itu ada yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rosulullah saw kepada mereka, seperti Hudzaefah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Nabi saw tentang ciri-ciri orang munafiq. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarnya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi saw. Umar bin Khotob pernah tercengang mendengar uraian Hudzaefah tentang ciri-ciri orang munafik.

            Sedangkan Abu Dzar Al Gifari termasyur sebagai orang yang social. Ia tampil sebagai prototype (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Dzar tidak pernah memiliki apa-apa tetapi ia sepenuhnya adalah milik Allah swt dan akan menikmati hartanya yang abadi. Bila ia diberi sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagikannya untuk para fakir miskin.

Kehidupan para tabi’in

            Setelah periode sahabat berlalu muncul pula periode tabi’in (sekitar abad ke 1 dan ke 2 H). Pada masa itu kondisi social politik sudah mulai berubah dari masa sebelumnya. Konflik-konflik politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan dari masa-masa sesudahnya.

Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok-kelompok Bani Umayah, Syi’ah, Khawarij, dan Murji’ah.

            Pada masa kekuasaan Bani Umayah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah-khalifah Bani Umayah secara bebas berbuat kedzaliman-kedzaliman terutama terhadap keloimpok Syi’ah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentengnya. Puncak kekejaman mereka terlihat jelas ada peritiwa terbunuhnya Husen bin Ali bin Abi Talib di Karbela. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu.

            Kekejaman Bani Umayah yang tak henti-hentinya itu membuat sekelompok penduduk kuffah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husen dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husen. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabin (kaum Tawwabin). Untuk membersihkan diri dari yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaum Tawwabin itu dipimpin oleh Muhtar bin Ubaid as Tsaqofy yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.

            Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi social pun terjadi. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama masyarakat Islam. Pada masa Rosulullah saw dan para sahabat, secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayah memegang tampuk kekuasaan, hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi dikalangan istana. Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin menjauh dari teradisi kehidupan Nabi Muhammad saw serta para sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja-raja Romawi. Kemudana anaknya, Yazid (memerintah 61 H / 680 M sampai 64 H / 683 M), dikenal sebagai khalifah yang tidak mempedulikan ajaran-ajaran agama. Dalam  sejarah, Yazid dikenal sabagai seorang pemabuk. Dalam situasi demikian kaum muslimin yang sholih mersa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, sholeh, dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar Al Gifari dan melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan social dalam Islam.

            Dari Perubahan-Perubahan kondisi tersebut sebagai masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi saw dan para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sedang saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut Zahid jamanya Zuhad atau karena ketekunan mereka itu beribadah, maka di sebut “abid”(jamanya ‘abidin atau ‘ubad), atau nasik (jamanya nussak).

            Tokoh Tabi’in pertama yang muncul di Madinah ialah Sa’ad bin Musayyab (15 – 94 H) ia banyak mendapat pendidikan dari mertuanya, Abu Huraeroh. Pda dirinya terkumpul kealiman dalam bidang hadits dan fiqih disamping itu juga dalam bidang ibadah, kezuhudan dan akhlak mulia.

            Selanjutnya muncul Salim bin Abdullah bin Umar bin Khotob, seorang tabi’in yang hidup zuhud. Diriwayatkan (berdasarkan ucapan tabi’in) suatu kali Sulaiman bin Abdul Malik masuk ke Masjidil Haram. Didalam masjid dilihatnya Salim dan ditegurnya: “Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu”. Jawab Salim “Demi Allah, dalam baitullah ini aku tidak meminta pada siapapun kecuali kepada Allah “. Di kota Basyroh masyhur pula nama Hasan al Basyry (Madinah 642 – Basyroh 728). Ia di besarkan dalam asuhan Ali bin Abi Thalib dan banyak belajar tentang ilmu kerohanian darinya dan dari Hudzaefah bin Yaman.

Hasan al Basyry mashur dengan kezuhudannya yang berlandaskan khouf (takut kepada kemurkaan Allah swt) dan roja (mengharapkan rohmat Allah swt). Yang di maksud dengan khouf ialah takut terjerumus kepada kemaksiatan yang akan mendapat kemurkaan dari Allah.

Khuof harus diiringi dengan roja, yakni senantiasa mengharap karunia Allah swt. Oleh sebab itu, Al Basru mengatakan “jauhilah dunia ini, karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada preasaan tangan, tetapi racunnya mematikan”.

Tokoh zuhud Basyroh lainnya ialah Malik bin Dinar (w 171 H). Ia adalah putra seorang budak berbangsa persia (Iran) dari Sijistan dan menjadi murid Hasan Al Basyry. Tentang kezuhudan Malik bin Dinar diceritakan oleh Al Sya’roni bahwa ia makan dari hasil kerja mengambil pelepah kurma dan dirumahnya tidak ada apa-apa kecuali mushhaf (kumpulan lembaran) Al Qur’an, kendi dan tikar. Diceritakan pula bahwa ia pernah berkata “seandainya seseorang mempelajari ilmu untuk diamalkan, ilmunya akan berkembang, tetapi ia mencari ilmu bukan untuk diamalkan, ia akan bertambah keji, sombong, dan merendahkan kaum awam”.

Para peneliti tasauf, diantaranya Al Taftazani menyebutkan bahwa corak yang menonjol dari para tokoh kerohanian di Basyroh ialah kezuhudan dan rasa takut yang luar biasa terhadap kemurkaan Allah swt. Rasa takut tersebut ternyata menimbulkan minat untuk lebih banyak beribadah dan menjauhi kelezatan dunia.

Tokoh tabi’in di Kufah antara lain Sufyan al Tsaury (97 – 161 H) yang terkenaldengan kealimannya dalam bidang hadits dan fiqih. Dalam bidang hadits ia mendapat gelar amirul mukminin fil hadits ( khalifah hadits), sedangkan dalam fiqih ia mencapai derajat mujtahid mutlak, dan madzhabnya pernah berkembang dalam dua abad. Dalam bidang kerohanian ia termasuk zuhud waro banyak beribadah dan sanggup menentang penguasa yang di pandangnya dzalim.

Tokoh zuhud Kufah lainnya diantaranya Rabi’ bin Khaisam, Sa’id bin Zuber, Tawus bin Kaisan al Yamani, Sufyan bin Uyainah, Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim. Umumnya mereka mempunyai ketekunan yang istimewa dalam beribadah. Dalam satu riwayat dari Al Gazali dikatakan bahwa diantara mereka ada yang sanggup melakukan qiyamul lail (shalat malam) sepanjang malam. Padamasa Hasan al Basyry dan tokoh-yokah kezuhudan pada abad ke 1 dan ke 2 H ini yang menjadi dasar zuhud mereka ialah khouf dan roja.

Masa peralihan dari zuhud ke tasauf

            Pada akhir abad ke 2 H peralihan dari zuhud ke tasauf sudah mulai tampak. Pada masa ini juga muncul analisis-analisis singkat tentang kesufian. Meskipun demikian, menurut nicholcon, untuk membedakan antara kezuhudan dan kesufian sulit dilakukan karena umumnya para tokoh kerohanian pada masa ini adalah orang-orang zuhud. Oleh sebab itu, menurut Al Taftazani, mereka lebih layak dinamai zahid daripada seorang sufi.

            Diantara tokoh kerohanian pada akhir abad ke 2 H yang agak condong kepada kajian tasauf ialah Ibrahim bin Adham (w 161 H) di khurasan. Ia adalah seorang putra raja di Balkh (Afganistan), tetapi tidak terpesina dengan kemewahan dan kekuasaan duniawi. Akhirnya, ditinggalkannya kerajaan ayahnya dan berkelana dengan pakaian wol besar ke padang pasir. Lalu ia menjadi tukang kebun di Syam (Suriah). Suatu kali ia ditanya: “mengapa anda menjauhi orang banyak ?” jawabnya “kupegang teguh agama didadaku”.

            Dengannya aku lari dari satu negeri ke negeri lain, dari bumi yang kutinggalkan menuju bumi yang akan kudatangi. Setiap orang yang melihatku menyangka aku seorang pengembala atau orang gila. Hal itu aku lakukan dengan harapan bisa memelihara kehidupan beragamaku dari godaan syetan dan menjaga keimananku, sehingga aku selamat sampai di pintu gerbang kematian.

            Tokoh lain pada masa ini ialah Imam Fudael bin ‘Iyad (w 187 H). Ia berasal dari Khurasan meninggal di Mekah. Pada mulanya ia seorang perampok kemudian berubah menjadi seorang zahid yang taat. Dalam kajian-kajiannya ia menekankan perlunya pembinaan batin daripada amal lahir. Kemudian muncul pula Daud Al Ta’iy (w 185 H) seorang zahid dan guru dari Ma’ruf al Karhi, tempat yang nanti muridnya nanti akan mengembangkan teori makrifat.

            Warna kezuhudan lebih tampak lagi pada Rabi’ah al Adawiyah (95 - 185 H / 713 – 801 M), seorang anak keluarga miskin yang hidup sebagai hamba sahaya, kemudian menjalani hidupnya dalam kezuhudan. Hari-harinya dihabiskan diatas tikar sajadah. Bagi Rabi’ah yang mendorongnya demikian adalah rasa cinta (mahabbahnya) kepada Tuhan, sehingga tidak tersisa lagi waktu dan ruang hatinya untuk selain Allah swt. Cinta kepada Allah swt membuat ia meninggalkan segala-galanya dan cinta itu pula yang mendorongnya untuk beribadah sebanyak-banyaknya agar bertemu dengan Allah swt yang dicintainya.

Sumber : 1. Ensi
               2.  Qusyaeriyah.


By Abu Bakar Bin Ahmad Mansor
(S.Kom.I., C.St., CH., CHt., NNLP.,)