Most Post

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya                 Masa KH Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh).                 Riwayat...

Tampilkan postingan dengan label Tarekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarekat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2011

Khirqoh


Khirqoh
            Khirkoh adalah berasal dari bahasa Arab Kharaqa khirqan, yang ma’nanya  merobek. Seperti kharaqa tsaoban (orang itu telah merobek pakaian ). Arti kedua dalam bahasa Arab menembus  seperti  ikhtaraqa as syaia  ( menembus sesuatu ). Arti ketiga menusuk seperti kharaqa fulan bir rumhi (si Fulan menusuk dengan tombak ). Arti keempat mereka-reka seperti kharaqa Zaidun shana’ahu (si Zaid mereke-reka buatannya).Arti kelima bertentangan/melampaui/berbeda Kharaqa‘Amrun al‘adah (prilaku ‘Amr bertentangan /melampaui/ berbeda dengan kebiasaan orang) dan banyak lagi ma’na–ma’na lain sesuai dengan rangkaian kata kata dalam bahasa Arab  (siyaqul kalam ).Dalam Al Qur’an lafad kharaqa diartilan  melobangi
فَانْطَلَقَا حَتّىَ اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا  . الكهف 71
Maka berjalanlah keduanya, hingga  tatkala  keduanya  menaiki perahu lalu Khaidir  melobangi nya .  Al Kahfi 71

Dalam ayat lain  mempunyai ma’na bohong  seperti
وَجَعَلوُا للهَ شُرَكاَء َالْجِنّ ِوَخَلَقَهُمْ وَخَرَقوُا لَهُ  بَنِيْنَ  وَبَنَتِ  بِغَيْرِ عِلْمٍ  الانعام 100
Dan mereka (orang orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa berdasar ilmu pengetahuan .  Al  An’am  100.


Dalam sehari hari bila berbicara keanehan tingkah laku seorang anak yang kadang kadang bertindak tidak sama dengan kawan kawannya, disebut juga dengan khawariqul ‘adat, yang artinya adalah berbeda tindakannya dengan yang lain. Tetapi walaupun tindakan anak itu berbeda dia menunjukkan kecerdasannya bukan menun jukkan hal hal yang negatip.
            Diantara contoh khawariqul ‘adat ialah ;
Seorang anak yang kalau dia tidur, dia tidak kenal waktu, seperti selama seminggu dia tidur dengan badan (fisik) tetap segar, kelihatan oleh kita dia tidak melakukan shalat, kalau dia tidak mau tidur walaupun seminggu dia tidak pernah tidur baik siang ataupun malam, tetapi dikala dia tidak tidur dia terus terus membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuannya, hasilnya memang dia menjadi orang yang pintar dalam ilmu ilmu yang dia pelajari. Contoh lain seorang anak sangat senang sekali menaiki sapi (lembu) sehingga walaupun dia kekota lembu itu harus dibawanya padawaktu belajar kelihatannya sangat sederhana sekali, tetapi kenyataannya dia pandai banyak ilmu yang kelihatannya oleh orang banyak belajarnya sangat sedikit. Contoh lain Imam Syafi’i seorang mujtahid mutlaq yang diakui oleh dunia, sehingga mendapat julukan atau titel Mujtahid dan pendapat-pendapatnya sangat banyak diikuti oleh kaum muslimin serta diakui sebagai Madhab dalam ilmu fikih. Diwaktu kecilnya  beliau  sejak umur 3 tahun sudah hafal Al Qur’an. Contoh lain seorang anak kecil kalau bermain dengan kawan-kawannya selalu diikuti oleh kawan kawan nya, sehinga apapun yang diperintahkan kepada kawannya, kawannya pasti setuju dan mau  melaksanakannya .
Dari beberapa contoh khawariqul‘adah kita dapat megambil satu kesimpulan  bahwa orang yang pandai atau seorang pemimpin sudah dapat dilihat oleh kita semenjak dia masih kanak kanak, tetapi apakah yang dia dapati dalam keilmuan itu akan terpupuk /dipupuk dengan pupuk yang bagus atau dipupuk dengan pupuk yang negatip. Kalau ternyata dipupuk dengan pupuk yang bagus maka dia akan tumbuh dengan bagus dan kalau dipupuk dengan pupuk yang jelek dia akan jadi manusia yang jelek .
            Hal pemupukan itu hanyalah usaha manusia, dimana manusia berkewajiban untuk berusaha dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya, karena hakekatnya  Allah lah yang menentukan, namun kalau kita tidak usaha berarti kita tidak mau  menggunakan  fikiran /akal kita yang Al Qur’an telah mengatakan
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى اْلاَعْمَى وَالْبَصِيرْ  اَفَلاَ تَتَفَكَّرُونْ  الانعام 50
Katakanlah: apakah sama orang yang buta dengan dengan orang ang  melihat ?  Maka apakah kamu tidak memikirkannya  . Al An’am 50
قُلْ  هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعءلَمُوْنَ وَالَّذِيْنض لاَيَعْلَمُونْ  الزمر 9
Katakanlah: apakah sama  orang orang yang  mengerti (berilmu) dengan orang orang yang tidak mengerti (bodoh).  Az Zumar 9.
           
            Kita mengenal juga tentang usaha menghindari kesulitan, dan tentang bagai mana meyakinkan kepada orang lain agar dia pada sesuatu yang dihadapinya mau meyakininya atau tidak. Karena adakalanya seorang melakukan suatu pekerjaan atau tugas tetapi hatinya tidak yakin bahwa yang dikerjakan itu akan berhasil padahal seharusnya dia melakukan suatu pekerjaan yang sedang dilakukan harus punya keyakinan bahwa pekerjaan itu adalah benar nantinya akan selesai .
            Sejak para nabi telah diberikan mukjizat untuk mengalahkan musuh, baik mengalahkan dalam arti moral atau mengalahkan dalam arti fisik atau dua-duanya. Mukjizat hanyalah keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada nabi Nya, dan muk jizat tidak sama persis dengan dengan karamah, karena memang yang memilikinya juga pangkatnya tidak sama. Mukjizat memiliki unsur 4 yaitu:1. Ada suatu hal yang  terjadi diluar kebiasaan.2. Nampak pada diri seorang Nabi. 3.Ada tantangan bia sanya dari pihak-pihak yang menentang atau yang menyangsikan kedudukan seorang Nabi. 4.Tantangan tersebut tidak dapat di tandinginya oleh pihak musuh, atau menentang hal yang luar biasa tersebut tidak akan mampu. Contoh mukjizat Nabi Muhammad saw adalah Al Qur’an, Al Qur’an sebagai mukjizat ter besar Nabi Muhammad saw.tidak dapat dikalahkan sampai akhir zaman, baik dari susunan bahasa maupun dari kandungannya.

Tongkat mabi Musa as adalah sebuah mukjizat baginya, maka bagaimanapun Fir’aun berusaha dengan segala kemam puannya untuk mengalahkan Musa as tidak akan dapat Musa dikalahkan. Menyembuhkan orang buta adalah mukjizat Nabi Isa as.dll
وَلاَ يَحْسَبَنَّ  اَّلذِيْنَ كَفَرُواْ سَبَقُوْا اَنّهُمْ لاَيُعْجِزُونْ . الانفال 59
Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah) .Sesungguhnya mereka tidak tidak dapat  melemahkan (Allah).
            Karamah (keramat) adalah sebuah anugera Allah, pertolongan Allah,  kepada seorang hamba Nya.Dalam tasauf karomah berarti kejadian luar biasa, diluar pe ngalaman manusia biasa yang diberikan Allah  kepada para wali Nya. Orang orang su fi yakin bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat  ke gaiban-kegaiban dan kemampuan melakukan sesuatu  yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Keramat atau karomah sering terjadi dikalangan orang orang sufi  na mun dapat juga lahir dari seorang hamba Allah swt yang biasa, saleh, beritikad ber sih, dan tekun mengerjakan amal ibadah. Pengertian keramat di Indonesia  biasa digu nakan untuk orang-orang yang sudah mati, hal ini terjadi karena pada masa hidupnya sudah menunjukkan beberapa  keajaiban .
اَلآ اِنَّ اَوْلِيآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ ُهْم  يَخْزَنُزنْ   يونسى 62
Ingatlah,, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kehawatiran terhadap  mereka dan  tidak pula  mereka bersedih hati.  Yunus 62

          Dalam tasauf seorang Mursyid (pembimbing) atau lazim disebut seorang Syekh dan juga disebut seorang Guru, atau disebut Guru Mursyid, dalam meyakinkan muridnya itupun mempunyai cara tersendiri. Jadi antara seorang Mursyid dengan Mursyid yang lain biasanya selalu berbeda dalam menghadapi muridnya, walaupun perbedaan itu tidak keseluruhannya, tetapi hanyalah metoda yang beliau milikinya itu. Biasanya beliu menggunakan semacam karomah, sehingga murid yang tadinya kurang yakin atau bahkan tidak yakin akan ke Mursyidannya setelah terjadi karomah itu menjadi yakin. Hal yang seperti itu biasa disebut dengan hirqoh, yang hirqoh disini dapat diterjemahkan dengan baju/pakaian/sandang, yang diterapkan, dipakaikan dipasang dalam arti yang ma’nawi (abstrak), bukan pakaian atau baju dalam arti konkrit yang dapat dipegang dengan tangan. Diantara contoh pakaian ma’nawi yang dipasang atau diterapkan seorang Guru Mursyid kepada muridnya, agar muridnya lebih yakin ialah
            Seorang murid diajak oleh Mursyidnya berjalan di daerah rawan karena banyak buaya, masyarakat sekitar daerah tersebut mengetahui sehingga masyarakat  mengingatkan bahwa harus hati hati karena daerah tersebut adalah banyak buayanya. Seorang Mursyid tetap mengajak muridnya untuk melewati daerah itu, dengan  memesan ikuti saja saya, kemanapun, mudah mudahan sampai tujuan. Tat kala melalui daerah tersebut betul banyak buaya dilihatnya, tetapi mereka malah ber jalan  menginjak punggung punggung buaya yang beberapa puluh yang akhirnya sampailah ke tempaat tujuan . 
            Seorang murid yang diajak oleh Guru Mursyidnya menuju suatu tempat, Guru Mursyid itu membawa tongkat kemudian tongkat itu diberikan kepada muridnya agar membawakannya (teken /iteukl), murid mengikuti dibelakang Guru, ternyata terlihat oleh sang murid bahwa gurunya berjalan dengan kaki yang tidak sampai tanah (menggantung).
            Seorang yang tidak percaya bahwa seorang Mursyid itu betul betul seorang Mursyid. Disuatu waktu dia berangkat dengan mengendarai sepeda motornya menuju Mursyid tersebut, setelah sampai dia minta uang kepada Mursyid itu  untuk beli bensin karena memang tidak membawa uang, dan memang sengaja tidak bawa uang tetapi oleh Mursyid itu tidak diberi uang, bahkan bicara mau pulang silahkan saja pulang, kemudian terpaksa pulanglah dengan tangan hampa dan menggerutu sambil hatinya merasa waswas dan yakin bensinnya tidak akan cukup untuk sampai kerumah  Kenyataannya setelah sampai kerumah  bensin masih utuh seperti semula .
            Seorang murid yang baru diberikan talkin dzikir, kemudian pulang menuju rumahnya dengan naik sepeda, perjalanan yang sangat jauh itu dan jalan yang naik turun oleh sang murid dilaluinya dengan  tidak merasakan bahwa jalan itu naik atau turun, dia naik sepeda seperti pada jalan yang rata dengan kecepatan yang dirasakan normal–normal saja. Tetapi  setelah sampai di suatu tempat yang sangat jauh, dengan kebiasaan naik sepeda setengah hari, hanya ditenpuh dengan perjalanan satu jam saja dengan tidak merasa capek.
            Beberapa contoh itu mempunyai unsur menambah keyakinan muridnya bahwa  yang dihadapinya itu betul betul seorang Mursyid. Maka dapat dibedakan bahwa yang disebut karomah adalah dalam rangka mengatasi kesulitan atau tantangan Mursyid, tetapi Hirkoh adalah sesuatu yang meyakinkan muridnya bahwa kejadian itu adalah sebuah hirkoh Mursyidnya. Mudah mudahan contoh 2 tersebut membuahkan  manfa’at  untuk memepalari tasauf  kedua  ini .   

Sumber : Ensi dan MengenalTasauf.

Rabu, 24 Agustus 2011

Syekh Atau Guru


Syekh atau guru.
 Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan  bahwa seorang guru atau syekh haruslah:
1.’Alim atau ahli dalam memberikan tuntunan kepada murid- muridnya dalam ilmu pengetahuan agama yang pokok.
2Mengenali segala sifat-sifat kesempurnaan hati dan hal-hal yang berkaitan dengannya
3. Memiliki rasa belas kasih terhadap kaum muslimin, terutama terhadap murid- muridnya
4. Pandai menyimpan rahasia murid- muridnya.
5. Tidak menyalah gunakan amanat murid-muridnya.
6.Tidak menyuruh murid-muridnya kecuali terhadap sesuatu yang layak   dikerjakannya
7. Tidak terlalu banyak bergaul dan bercengkrama dengan murid- muridnya..
8. Mengusahakan segala ucapannya ,bersih dari pengaruh nafsu dan keinginan
9. Lapang dada dan ikhlas.
10.Memerintahkan berkholwat kepada murid yang memperlihatkan kebesaran dan ketinggian hati karena terlalu dekat bergaul dengannya.
11. Memelihara kehormatan diri dan kepercayaan murid-muridnya..
12. Memberikan petunjuk untuk memperbaiki keadaan murid-muridnya.
13. Memperhatikan dengan sungguh-sungguh terjadinya kebanggaan rohani yang timbul pada murid-muridnya yang masih dalam proses pendidikan.
14. Melarang murid-muridnya banyak berbicara dengan teman-temannya kecuali sangat penting.
15. Menyediakan tempat khalwat.
16. Menjaga diri agar murid-muridnya tidak melihat keadaannya dan sikap
hidupnya yang dapat mengurangi rasa hormat mereka.
17. Mencegah muridnya banyak makan.
18. Melarang muridnya berhubungan dengan syeh tarekat lain,jika membahayakan
19.Melarang muridnya sering berhubungan dengan pejabat, yang dapat membangkitkan duniawi.
20.Menggunakan kata-kata yang lembut, menarik dan memikat dalam hutbah-hutbahnya.
21. Segera memenuhi undangan orang yang mengundangnya dengan penuh perhatian
22. Bersikap tenang dan sabar ketika duduk bersama murid-muridnya.
23. Memperhatikan akhlak yang mulia ketika murid-muridnya datang bertamu
24 Memperhatikan keadaan murid-muridnya dengan menanyakan muridnya yang tidak hadir dalam pertemuan mereka        

Untuk dapat melaksanakan tarekat dengan baik,seorang murid hendaknya mengikuti jejak dan melaksakan perintah dan anjuran yang diberikan mursyidnya. Ia tidak boleh mecari-cari keringanan dalam melaksakan amaliyah yang sudah ditetapkan dengan segala kekuatannya ia harus mengekang hawa nafsu untuk men hindari dosa dan noda yang dapat merusak amal. Ia juga harus memperbanyak wirid dikir dan do’a serta memanfa’atkan waktu seefectif dan seefisien mungkin.

Untuk tidak melanggar hukum Agama ,murid harus belajar ilmu pengeta huan yang bekaitan dengan syari’at
         Biasanya untuk melaksanakan aktivitas tarekat secara baik, pengikut tarekat secara baik, pengikut tarekat dimasukan kesebuah tempat husus yang dinamakan ribath(tempat belajar), zawiyah(tempat ibadah kaum sufi) atau khanqoh.Ditempat inilah amaliah tarekat dilaksanakan, baik berupa dzikir (ingatan yang terus tertuju kepada Alloh swt dengan lidah terus menyebut namaNya), ratib(mengucap la ilaha illaloh), pembacaan wirid-wirid atau syair-syair tertentu yang diiringi dengan bunyi-bunyian seperti rebana dan melakukan menari mengiringi wirid yang dibaca, maupun berupa pengaturan napas yang berisi dzikir tertentu.
          
Tarekat banyak muncul pada abad ke 6 dan ke 7 Hijriyah ketika tasawuf menempati posisi penting dalam kehidupan umat Islam dan dijadikan sebagai filsafat hidup. Pada priode ini tasauf memiliki aturan-aturan, prinsip, dan sitem khusus, sedangkan sebelumnya taswuf dipraktekkan secara individual disana-sini tanpa adanya ikatan satu sama lain. Dalam perkembangan selanjutnya tarekat menjadi semacam organisasi atau perguruan dan kegiatanpun semakin meluas, tidak terbatas pada dzikir  dan wirid atau amalan  tertentu saja, tetepi juga pada masalah-masalah lain yang bersifat duniawi .Bahkan ada beberapa kelompok tarekat yang melibatkan diri dalam kegiatan politik, seperti tarekat Sanusiyah yang menentang penjajahn Italia di Libia, tarekat Tijaniah  yang menentang penjajahan Perancis di Afrika utara, dan tarekat Syafawiyah yang melahirkan kerajaan Syafawy  di Persia (Iran) .
               
Didalam dunia Islam tarekat berkembang pesat, sehingga besar jumlahnya yang  cukup terkenal diantaranya ialah Tarekat Qodiriyah yang  didirikan oleh Syekh Abdul Qodir Al Jaelani (470-561 H )Tarekat Rifa’iyah yang dinisbatkan kepada Syeh Akmad bin Aly Abul Abas Al Rifa’i (w 578 H /1183 M )Tarekat Suhrowadiyah  yang dinisbatkan kepada Abu An Najib As Suhrowardi (490-563 H) dan anak saudaranya, Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah As Suhrowardi (493-632 H ); Tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada Abu al Hasan As Syadzily (w686 H), dan Tarekat Naqsyabandiyah yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Muhamad  Bahaudin Al Uwaesy  al Bukhary Al Naqsyabandy (717-791 H ). 

                Daftar nama nama Tarekat dan para pendirinya.


No:       Nama Tarekat                      Pendiri                                    Berpusat di
1.  AMDHAMIYAH              Ibrahim bin Aam                     DamaskusSuriah 
2.  AHMADIYAH                  Mirza Gulam Ahmad              Qodia India
3.  ALAWIYAH                     Abu Abas Ahmad bn Mstf     Mostaganen Aljajair   
4.  ALWANIYAH                   Syekh Alwan                         Jiddah Arab  
5.  AMMARIYAH                 Ammar bn Senna                    Constantine
6.   ASYAQIYAH                  Hasanuddin                             Istambul
7.   ASYROFIYAH                Asyrof Rumi                           Cin Iznik  Turki
8.   ABAIYAH                       Abdul Gani                             Adrianopel Turki
9.   BAHEAMIYAH               Haji Bahrami                           Ankara Turki
10. BAKRIYAH                    Abu Bakar Wafai                    Aleppo Suriah
11. BEKTASYI                      Bektasyi Veli                           Kir Sher  Turki
12. BISTAMIYAH                 Abu Yazid Al Bistami               Jabal Bistam Iran
13. GULSYANIYAH             Ibrahim Gulsyani                      Cairo Mesir
14. HADDADIYAH               Syh Abdlh bin Alwy Alhdd       Hijaz  Arab Saudi      
15. IDRISIYAH                     Syekh Ahmad bin Idris            Asir Arab Sa’udi
16. IGHITBASYIYAH           Syamsudin                               Magnesia Yunani
17. JALWATIYAH                  Pir Uffadi                                 Busro Turki
18. JAMALIYAH                   Jamaludin                                Istambul Turki
19. KABRAWIYAH              Najmuddin                              Khurasan Iran
20. QODIRIYAH                   Abdul Qodir Jaelai                  Bagdad Iraq
21. HALWATIYAH                          Umar Al Halwaty                   Kaysani Turki
22.  MAULAWIYAH                        Jalaludin Al Rumi                   Konya  Anatoliya
23. MURODIYAH                            Murod Syami                          Istambul Turki
24. NAQSYABANDIYAH               Muhd bn Muhd bn Uws Bhr  Qasri Arifah Turki
25. NIZAMIYAH                             Muh Niyaz                              Lemnos Yunani
26. NIKMATALAHIYAH                Syah Wali Nikmatillah            Kirman Iran
27. NURBAKHSYIYAH                  Muh Nurbakhs                        Khurasan Iran            
28. NURUDDINIYAH                     Nuruddin                                Istambul Turki
29. RIFAIYAH                                  Sy Ahmad Rifa’i                     Bagdad Iraq
30. SADIYAH                                  Sa’dudin Jibawy                     Damaskus Iraq
31. SAFAWIYAH                             Safiudin                                  Ardebil Iran
32. SANUSIYAH                              Sidi Muh bn Aly As Sanusi    Tripoli Libanon
33. SAQOTIYAH                             Sirry Saqty                              Bagdad Iraq
34. SIDDIQIYAH                             Kiyai Mukhtar Mukti              Jombang Jatim
35. SINAN UMIYAH                       Alim Sinan Ummi                   Awali Turky
36. SUHROWARDIYAH                  Abu Najib Suhr & Syhbdn    Bagdad Iraq   
37. SUNBULIYAH                           Sunbul Yusuf  Bulawi            Istamnbul Turki 
38. SYAMSIYAH                             Samsuddin                              Madinah Arab
39. SYATARIYAH                            Abdullah Ayatar                     India
40. SYADZILIYAH                          Abul Hasan Aly As Syadzaly   Makkah
41. TIJANIYAH                               Abul Abas At Tijany               Fes Maroko
42. UMM SUNANIYAH                  Syekh Umm Sunan                 Istambul Turki
43. WAHABIYAH                            Muhammad bin Abd Wahab Nejd  Aran
44. ZAINIYAH                                 Zainudin                                  Kufah Iraq    
 Dan masih banyak lagi  yang belum terdata secara  lengkap
            Sumber : Ensi .

Landasan Tarekat.
Landasan un tuk berpijak tarekat adalah Al Qur’an dan As Sunnah, serta hasil riyadoh Guru /Syekh tarekat itu sendiri yang kemudian diikuti oleh murid muridnya. Jadi semua kegiatan yang berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah adalah benar dan dalam bahasa Arab disebut dengan mu’tabar /mu’taba roh. Apabila pelaksanaan itu tidak dilandaskan dua tersebut berarti tarekat itu adalah  tidak mu’tabaroh, dan perkembangan ijtihad selanjutnya adalah sama dengan  para fuqoha  yaitu menggunakan qiyas dan ijma’, apalagi di Indonesia yang mayoritas ber Madhab As Syafi’i tentu saja berpegang kepadanya.Sekalipun tentunya ada beberapa hal lain yang mengikuti Madhab selain As Syafi’i. Karena dimanapun tidak akan murni 100%  menggunakan satu Madhab . 

                Bagi seorang Mursyid boleh saja melakukan ijtihad-ijtihad tersendiri, dalam melaksanakan ubudiyah dan lain-lainnya selama hasilnya itu tidak berlawanan dengan pokok dari Al Qur’an dan As Sunnah, missal seorang Mursyid memberikan pelajaran /memberikan talqinnya dengan cara ngobrol saja disuatu tempat kepada seorang muridnya. Kejadian hal ini tidak dipersalahkan karena itu adalah wewenang  seorang Syekh, karena essensinya adalah memberikan pelajaran, walaupun ada hadits yang meberikan contoh talqin dengan cara duduk berhadapan dan lututnya di temukan dengan lutut Syekhnya.

                Seorang Mursyid tentunya sudah mendapat ijin (ma’dzun) dari Mursyidnya dikala beliau menjadi muridnya, yang dalam ilmu hadits  disebut  tahammul (meneri ma), setelah ma’dzun berubahlah beliau dapat memberikan  kepada orang lain yang memintanya yang dalam ilmu hadits disebut ada (menyampaikan). Etikanya memang harus meminta, sesuai dengan
Firman Allah  suratAn Nahl ayat 43 

فَاسْئَلُواْ اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
Izin dalam hal ini berarti diberikan kewenangan untuk memberikan pelajaran tarekat  karena tidak semua orang yang sudah belajar dapat memberikan kepada orang lain kacuali hanya memberikan penjelasan saja yang dalam penjelasan itu tidak mempunyai arti mengajarkan atau disebut mentalqin. Bahkan bagi seorang yang sudah bertarekat dapat diberikan penjelasan oleh yang seniornya dalam rangka membina sesamanya sebab Al Qur’an  itu sendiri memberikan  keleluasaan kepada umat Islam untuk mengambil contoh  dari yang  ada. 
surat Al Hasyar ayat 2
فَاعْتَبِرُوْا  يَا اُوْلِى الاَلْبَاْبِ
                Maka apabila seorang yang sudah tahu kemudian mengajarkan  kepada orang lain tapa seizin Mursyidnya adalah tidak boleh. Dan Guru (Mursyid) berwenang untuk menentukan hal itu. Wewenang seperti itu tidak mempunyai arti bahwa seorang murid tidak boleh berijtihad sendiri, namun persoalan ini adalah hanyalah mengenai ketorekatan saja. Hal-hal yang lain silahkan saja berijtihad misal mengenai  permasalahan fikih  dan lainnya, selain masalah yang sempit ini didalam pertalqinan.
               
Seorang Mursyid harus muttasil sanadnya sampai Rasulullah saw, apabila tidak muttasil berarti  apa yang diberikannya itu kurang kuat, dan sebagaimana dalam syarat syarat Mursyid beliau harus pandai juga ilmu-ilmu lain, missal ilmu tauhid, ilmu fikih dan lain sebagainya, karena bagaimanapun mau beribadah yang betul betul khusyuk tentu saja ilmu tauhid dan ilmu fikihnya tidak ketinggalan. Kita sering mendengar  suatu ungkapan yang dikemukakan  Imam Malik

 مَنْ تَفَقَّهَ وَلا تَتَصَوَّفَ فَقَدْ تَفَسَّقَ وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلاَتَفَقَّهَ فَقَدْ تَزَنْدَقَ وَمَنْ تَصَوَّفَ وَتَفَقَّهَ فَقَدْ تَحَقَّقَ
Artinya: orang memakai fikih tidak memakai tasauf itu adalah sama dengan orang fasik, demikian pula orang memakai tasauf tanpa memakai fikih itu adalah sama de ngan orang zindik, dan apabila memakai fikih disertai tasauf itu adalah yang man tap.(zindik= kotor/orang yang membuat penyimpangan dlm menafsirkan Qur’an)
Bertasauf disini adalah melakukan  perbuatan ibadah sesuai dengan  tuntunan ibadah, sedangkan beribadah caranya diatur oleh ilmu fikih, maka orang yang bertashauf sudah pasti melakukan aturan ibadahnya sesuai dengan tuntunan fikih. Tetapi tidak cukup diatur dengan fikih saja melainkan ilmu yang pertama kali harus dipelajari adalah ilmu tauhid (aqidah), karena tauhid menjadi landasan yang sangat essensi, karena bagaimanapun ibadah diatur dengan baik, tetap akan mudah diganggu oleh syetan, tetapi apabila ilmu tauhidnya sudah mantap pasti dapat membedakan  mana yang sebenarnya dihadapi sewaktu beribadah, tidak dapat diikuti oleh syetan .
               
Memakai fikih dengan sebaik baiknya itupun dalam beribadah tidak akan  dapat menjamin yang terbaik, kalau tidak disertai dengan aqidah  dan tashaufnya kare na bila tidak lengkap akan mudah juga diganggu oleh syetan. Sering kita dapati contoh yang dikemukakan oleh ulama-ulama, seorang yang betul-betul beribadah sesuai aturan fikih tetapi tidak memiliki ilmu tauhid dan tasauf, dia mudah digoda oleh syetan, misal seorang yang sedang tekun ibadah tiba-tiba datanglah syetan  menhadap dalam bentuk seorang yang oleh si abid dianggap malaikat; Karena memang dia mengaku malaikat dan mengatakan bahwa ia ibadahnya  sudah dianggap cukup  agar  berhenti saja, si abid kemudian berhenti ibadahnya karena merasa sudah cukup dan sudah diterima. Tetapi kalau orang itu bertauhid dan bertashauf dengan memiliki ilmunya, dia beribadah sungguh-sungguh lalu datang syetan yang mengaku dia seorang malaikat dan memberi tahukan  bahwa ibadahnya sudah dapat diterima maka si abid tidak akan percaya, bahkan syetan yang mengaku malaikat itu dilawannya,
               
Alangkah benarnya bila ia seorang ‘abid  dengan dilengkapi ilmu aqidah dan tasaufnya, maka dia ibadahnya akan sangat mantap, tidak mudah atau bahkan tidak  dapat diganggu  seperti telah diterangkan .
Seorang guru Mursyid selalu membimbing muridnya kearah yang terbaik, diadakan latihan-latihan pendekatan diri kepada Allah dan diberikan  ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan agar muridnya dapat mencapai maqom yang ditujunya. Beliau merasa bertanggungjawabb atas asuhannya sebagaimana disebutkan dalam 

hadits Nabi saw
كُلُّكُمْ رَاْعٍ وَكُلُّ رَاْعٍ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ
Artinya: kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya pertanggungja wabannya dari apa yang dipimpinnya .”                

Seorang Syekh tidak henti-hentinya mengontrol muridnya  yang banyak atau yang sangat banyak, karena beliau bertanggungjawab. Beliau akan memberikan peringatan kepada muridnya yang diketahui tidak mengerjakan tugasnya, dan membe rikan pelajaran tambahan untuk meningkatkan martabat  atau maqom  muridnya yang ta’at. Dengan segala kemampuan baik lahir maupun batin  seorang Mursyid  meman taunya sehingga muridnya berhasil .   
   
Bagi Syekh torekat Qodiriyah dan Naqsyabandiyah yang sangat beliau perhatikan selain urusan yang berkaitan  dengan pelajaran fikih  juga dengan amalan-amalan yang berhubungan dengan aqidah serta ketashaufannya. Dan yang sangat menojol adalah mengenai dzikru Allah, karena dengan dzikru Allah sebagai alat embersih qolbu, dan sebagai penyembuh penyakit qolbu, sehingga qolbu menjadi bersih dari segala kotoran .

 Sumber : Ensi .

By Abu Bakar Bin Ahmad Mansor
(S.Kom.I., C.St., CH., CHt., NNLP.,)