Most Post

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya                 Masa KH Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh).                 Riwayat...

Minggu, 18 September 2011

Tawasul


Tawasul adalah sesuatu yang dengannya menjadi dekat, bahwa tawasul diha dapan Rasulullah saw adalah sangat diperlukan karena  untuk  diijabah permohonan, untuk melaksanakan hajat, untuk ampunan dosa, untuk menghilangkan kesedihan,  untuk menghasilkan yang dicita-citakan yang baik baik, dan segalakebutuhan ma nusia muslim, yang dipercaya, terhadap segala kebaikan.

Orang yan meng inkari tawasul adalah menginkari Al Qur’an , dan Sunnah Rasul, serta meng inkari ijma muslimin, sebelum ada bid’ah dan ahwa (keinginan sesuai hawa nafsu) .

            Dalah tarikh orang orang Bani Nadir dan Bani Qoraidah telah mendengan dari Taurat bahwa sifat sifat Muhamad adalah, sifat sifat seorang Nabi, mereka memohon kedatangan Muhammad saw untuk mendapatkan kemenangan  atasorang orang kafir.
وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُواْ فَلَمّاَ جَاءَهُمْ مَا عَرَفُواْ  كَفَرثواْ  بِهِ  فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَفِرِينْ  البقرة 89
Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi)  untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka  apa yang telah mereka ketahui mereka lalu inkar kepadanya. Maka laknat Allah  atas orang orang  yang inkar itu.  Al Baqoroh 89. 

Dalam sejarah apabila orang orang Bani Quraidah dan Bani Nadir sedang meng hadapi orang orang kafir dan mereka erasa akan kalah segeralah mereka membuka Taurat dan tangan mereka ditaruh diatas tulisan Muhammad sambil mereka berdo’a
َاللَّهُمّ َاِنّاَ نَسْئَلُكَ بِحَقّ ِنَبِيّكَ اَّلذِى وَعَدْتَنَا مَنْ تَبْعَثُهُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ اِنْ تَنْصُرْنَا الْيَوْمَ عَلَى عَدُوّنِاَ فَيَنْصُرُوْن
Bani Nadir dan Bani Quraedah adalah ahlul Kitab  (pemegang Taurat )dan mereka suku Yahudi, sedangkan musuhnya (yang orang musyrikin ) adalah  Bani  Aus dan Bani Hojroj  .    

          Pelaksanaan umat sebelum Muhammad yang bertawasul kepada Muhammad yang tercatat dalam Taurat, adalah Syara’ umat sebelum Islam, itu juga menjadi syara’  bagi umat Islam selama tidak ada nasah .
            Dari Al Qur’an sendiri menyuruh  bertawasul  seperti
يا ايها الذين امنوا اتقوا  الله وابتغوا اليه الوسيلة وجاهدوا في سبيل الله لعلكم تفلحون
Hai orang orang yang beriman  bertaqwalah kepada Allah  dan carilah jalan  yang mendekatkan diri kepadaNya dan berjihadlah pada jalanNya supaya kamu men dapat keberuntungan.  Al Maidah 35.  

Secara lahiriyahnya ayat ini bertawasul  dengan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, bertawasul dengan ‘amal sholih, karena apabila tawasul ini diartikan perantara maka dengan apa saja yang menjadi perantara adalah jadi .dalam Al Qur’an membuang muta’aliqot adalah berfaidah umum, seperti  ucapan
هَلْ يَسْتَوِى  اَّلذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَيَعْلَمُوْن  الزمر  9
  apakah sama orang orang yan pandai dengan orang orang yang tidak pandai  ?

       

Karomah

Karomah adalah bahasa Arab yang artinya anugerah, kemuliaan ,kemurahan hati, perlindunan, dan pertolongan Allah swt kepada salah seorang hambaNya. Dalam tasauf karmah berarti keadaan luar biasa diluar pengalaman manusia biasa yang diberikan Allah swt kepada para waliNya. Kata karomah juga sering disamakan dengan kata keramat, yang berarti bakat luar biasa bagi orang uang dipilih Allah swt yaitu bakat individual karena  Allah swt menyertai, melindungi, dan menolong orang-orang saleh.

            Orang – orang sufi yakin bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat kegaiban-kegaiban dan kemampuan melakukan sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Keramat atau karomah sering terjadi dika langan orang orang sufi, namun dapat juga lahir dari seorang hamba Allah swt yang biasa, saleh,  beritikad bersih, dan tekun mengerjakan  segala amal ibadah .

            Perkataan keramat dalam pengertian ini sudah umum diketahui  dan dipakai di Indonesia terutama untuk orang orang orang yang sudaf wafat. Hal ini terjadi karena  pada masa hidupnya mereka sudah menunjukkan beberapa keajaiban. Setelah kema tiannya pun banyak terkabul niat yang disampaikan dengan mengemukakan nama nya.Maka terdapat banyak kuburan orang orang  keramat, baik wali maupun orang biasa yang pada waktu hidupnya berbudi mulia dan luhur, yang dikunjungi orang pada waktu waktu tertentu.
            Dalam Al Qur’an surat Yunus
اَلاَ اِنَّ اَوْلِيَاءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَخْزَنُونْ.  يونس 62
Ingatlah , sesungguhnya wali wali Allah itu tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula  bersedih hati. Yunus 62

Allah swt adalah pelindung, penolong, dan teman terdekat mereka sehingga  hubungan dengan Allah  tidak pernah terkendala oleh ruang dan waktu. Allah swt adalah pelindung hamba-hambaNya. Mereka adalah orang suci, jiwa bersih, dekat pa da Allah swt, dan rela menerima apa saja yang datang dariNya, seakan semuanya membawa kemuliaan yang ajaib dan kejadian kejadian yang luar bia sa.Karena hubungannya yang dekat pada Allah swt terbukalah selubung yang menutupi alam supernatural, alam gaib. Mereka dikaruniai kelebihan kelebihan  yang  luar biasa. Contoh kejadian luar biasa antara lain  tampak dalam cerita  yang dilukiskan surat  An naml ayat 39 –40.
قاَلَ عِفْرِيتْ مِنَ الْجِنّ ِاَنَا آتَِيْكَ بِهِ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ  مِنْ مَقَامِكَ  وَاِنّىِ عَلَيْهِ لَقَوِيّ ٌاَمِينْ .  قال الذى عنده علم من الكتاب انا اتيك به قبل ان يرتد اليك طرفك  فلما راه  مستقرا عنده قال هذا من فضل ربى  ليبلونى فأشكر ام أكفر ومن شكر فانما يشكر لنفسه  ومن كفر فان ربى غنى كريم .
Berkata Ifrit (yang cerdik ) dari golongan jin: “aku akan datang kepadamu dengan membawa singasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya “. Ber katalah seorang yang mempunyai ilmu  dari Al Kitab. .” Aku akan membawa singgasana itu  kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka taatkala Sulaiman melihat singgasana itu  terletak dihadapannya , iapun berkata :”Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah  aku bersyukur atau mengingkari”akan nikmat Nya.” Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang inkar, maka sesungguhnya  Tuhan ku Maha Kaya lagi Maha Mulya “.An Naml 39-40
            Juga dalam surat Ali Imran ayat  37
فَتَقَبّلَهَا رَبّهُاَ  بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَاَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا  وًكًفَلَهَا  زَكَرِيَّا  كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا  زَكَرِيَا الْمِحْرَابَ  وَجَدَ عِنْدَهَا  رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ انَّىَ لَكِ هَذَا  قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ  اِنّ َاللهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابْ.
Maka Tuhannya (menerimanya) sebagai ndzar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menadikan Zakariya pemeliha ranya. Setiap Zakariya Masuk  untuk menemui Maryam di Mihrob, ia dapati maka nan disisinya. Zakariya berkata:”Hai Maryam darimana kamu meperoleh (makanan) ini ?”.Mariyam menjawab“makanan itu dari sisi Allah“ Sesungguhnya Allah mem beri rizqi  kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab 

Ali Imran 37 .
Kejadian –kejadian ini merupakan anugrah luar biasa  dari Allah swt diluar pengalaman lahiriyah manusia, karena dekatnya hamba pada halikNya.Pendapat ulama berbeda-beda mengenai masalah karomah. Abu al Wafa al Gonimi  at Taftazani  pe ngarang buku Madkhal ila al tasauf al Islami (Pengantar Tasuf Islam),  mengatakan bahwa uraian yang begitu luas tentang kekaromatan dalam kehidupan wali me rupakan hal yang dilebih lebihkan dan menyimpang dari  fakta fakta biasa  dalam pe ngalaman keagamaan yang ajaib dan luar biasa. Ibnu Haldun dan Ibnu Sina  menga takan bahwa kekeramatan harus diakui bersandarkan hi potesis  bentuk bentuk misteri yan masih terpendam dan belum terbongkar dialam jagat raya. Namun Madhab Mu’tazilah (aliran yang mendasarkan ajaran Islam  pada Al Qur’an dan akal )  me nolaknya karena alam semesta tidak menyimpan misteri yang tidak terpikirkan secara rasional. Karenanya, keseluruhan kejadian alam semesta  masih dapat diselesaikan  dengan kaidah rasional karena Al Qur’an  me mang  mengatakan demikian . 

            Orang orang keramat seperti para wali tidak makshum (bebas dari doda dan kesalahan), tidak terpelihara dari segala pekerjaan jahat, tetapi mahfudz, yang berarti terpelihara dari segala perbuatan makshiat. Mahfudz pada asalnya berarti tidak  me ngerjakan yang maksiat,tetapi jika dikerjakan juga, maka para wali menyesal dan bertaubat sesempurna mungkin. Kekeramatan pada para wali menurut kaum sufi bukan pekerjaan mustahil bagi Allah swt, karea termasuk yang  ungkin terjadi seperti juga mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. Karena itu, kejadian ini tidak pernah di sangkal oleh empat aliran Madhab ahlu sunah, terutama tanda tanda karamat setelah mati. Kisah kisah mengenai kekeramatan para wali biasanya  dapat didengan dari penunggu penunggu kuburan, keluarga, dan murid mereka, atau dibaca dalam sejarah  hidupnya yang biasa disebut manaqib (kisah kekeramatan para wali).Umpamanya manakib Syeh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H 116 M), pendiri Tarekat Qodiriyah, dan masih banyak lagi  manakib manakib para wali dalam ceritera kekeramatan.       

Menurut kaum sufi “kekeramatan “ berbeda dengan  “sihir” . Sihir acapkali terjadi dalam kalangan orang orang fasik (tidak mengindahkan perintah Tuhan), zindik (tersesat imannya) dan kafir.Sedangkan kekeramatan terjadi pada orang orang yang percaya kepada Allah swt  dan sungguh sungguh mengerjakan sega la syariarNya. Terdapat perbedaan keramat dengan mukjizat. Keramat terjadi pada wali Allah biasa, sedangkan mukjizat terjadi  bagi Nabi nabi dan Rasul rasul Allah swt. Demi kelancaran dakwah dan syi’ar Islam dalam menanamkan kepercayaan kepa da umat yan dihadapi. Nabi nabi melahirka mukjizatnya untuk meyakinkan kenabiannya kepada umat, sedangkan para wali hanya menyampaikan seruan seruan Nabi Muhammad saw kepada manusia di sekitarnya  dengan keterangan keterangan  yang sudah diberikan oleh Allah dalam firmanNya kepada nabi Muhammad dengan sunahnya. Kebanyakan wali merahasiakan keistimewaannya yang luar biasa karena  keta’atan kepada Allah swt serta kesungguhan mereka dalam menjauhkan diri dari segala maksiat dan hawa nafsu.   Walaupun demikian Nabi diberi mukjizat memang karena ada tantangan , demikian juga para wali diberi karomah karena ada tantangan, berbeda dengan  hirqoh, karena hirqoh sifatnya hanya memperkuat keyakinan yang diterima dari syehnya, bahwa syehnya itu adalah benar seorang Mursyid .

            Karomah antara seorang wali dengan seorang wali yang lain adalah bisa berbeda sama halnya dengan mukjizat seorang Nabi dengan Nabi yang lain, karena Allah memberikan  karomah sesuai dengan kebutuhan wali itu sendiri  dimasanya dan di lingkungannya.
      
            Sumber : At Ta’arruf  

Robitoh


Robitoh dari bahasa Arab yang kata dasarnya berasal dari robato yang  artinya mengikat, menghubungkan, menyambung, membalut, tabah, tekun, berhenti. Seorang penggembala kambing atau sapi atau ternak lainnya pada suatu waktu mengikatkan tali binatang itu dibawah pohon agar binatang itu tidak kemana mana, atau para penjual hewan dipasar hewan mengikatkan hewannya di pasak pasak (patok-patok )  yang sudah disediakan oleh  pengurus pasar. 

            Seorang guru mengikat muridnya dengan sebuah ilmu yang oleh gurunya dibe rikan agar murid itu melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk  gurunya.Bila perbuatan murid itu tidak sesuai dengan petunjuk gurunya maka perbuatannya  tidak dapat diterima, karena harus sesuai dengan aturan yang diberikan guru itu. Guru akan membawa murinya ke alam baqo kelak apabila murid itu mengikuti segala yang diberikannya, seperti halnya kereta api dengan sebuah lokomotip dapat membawa gerbong yang banyak dan muatan yang banyak, apabila gerbong-gerbong itu mengait ke lokomotip, sebaliknya apabila gerbong-gerbong itu tidak mengait maka tidak akan terbawa oleh lokomotip. 

            Didalam tasauf kita mengenal juga istilah rabitoh, wuquf qolby, robitoh kita kenal dengan pertalian/persambungan antara murid dengan gurunya, dalam hal seperti ini yang dimaksud dengan pertalian adalah bukan tali dalam bentuk konkrit melainkan tali yang abstrak karena diikatnya bukan dengan benda melainkan dengan sebuah janji setia atau biasa disebut bai’at, kadang disebut dengan talqin, atau ada juga yang menyebut tawajuh. Robitoh dalam tasawuf dapat diartikan juga dengan istilah pembuka pintu, dia yang membukakan pintu tetapi dia sendiri tidak masuk. Yang demikian oleh ulama dicontohkan waktu Rasulullah mi’raj, dimana beliau di barengi Jibril tetapi Jibril sendiri tidak menghadap Allah swt, Jibril cukup mengu sulkan membuka pintunya saja.

 Wuquf qolbi artinya kalbunya istiqomah berdzikir kepada Allah tidak putus-putus sedangkan anggauta badan lainnya bergerak terus–menerus sesuai dengan ke butuhan manusia. Wuquf qolbi arti secara harfiyah adalah wuquf itu sendiri  diam /berhemti dan arti qobly ialah kalbu, yang biasanya diterjemahkan hati, walaupun sebenarnyas kalau diterjemahkan yang benar adalah jantung, dan terjemahan seperti itu disebut terjemahan golabah, artinya secara umum orang menterjemahkan kalbu adalah  hati. 

            Bila pertalian itu terputus maka muatan yang sarat itu tidak terbawa, yang ringanpun tidak akan terbawa karena tidak mengait, apalagi yang sarat dan berat. Seorang sufi yang merasa tertinggal dari gurunya segera menyusul lagi agar selalu dapat berbarengan sebagaimana dalam Al Qur’an dianjurkan atau diperintahkan
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُواْ فَقَالوُا رَبُّنَا رَبّ ُالسَّمَوَاتِ وَالاَ ْرْضِ لَنْ نَدْعُوَا
مِنْ دُوْنِهِ اِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا اِذًا شَطَطً
Dan Kami telah meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka ber kata; Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak sekali kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh  dari kebenaran, S. Al-Kahfi : 14.

Dari ayat tersebut terdapat kisah Ashhabul Kahfi yang tertidur di sebuah guha  karena hatinya sudah merasa teguh dan kuat, merasa diikat oleh keyakinan, tidak mau tunduk kepada  penguasa yang musyrik  dikala itu.
وَاَصْبَحَ فُؤاَدُ اُمّ ِمُوْسَى فَرِغًا اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِ لَوْلاَ اَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لَتَكُوْنَ  مِنَ اْلمُؤْمِنِينْ
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa, sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia  tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). S.  Al-qoshosh : 10

Dari ayat surat Al Qoshosh mempunyai arti bahwa ibunya Nabiyullah Musa as  mera sakan ikatannya dengan anaknya  tetapi sang ibu tidak mau mengaku bahwa dia ada lah anaknya.
يَا أَيُّهَاالَّدِيْنَ أَمَنُواْ اْصبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوْا للهَ لَعَلَّكُمْ  تُفْلِحُونْ. ال عمران 200
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.  S.  Ali Imron :200

            Manusia punya kehendak, bagi yang mukmin adalah kalau mau minta pasti kepada Allah, kecuali kalau yang musyrik itu lain lagi. dalam Al Qur’an sudah di terangkan bahwa siapa saja kalau mau meminta mintalah kepada Allah, atau ber do’alah kepada Allah, dan Allah lah yang mengijabahnya
قاَلَ رَبُّكُمْ اْدعُوْنِى  اَسْتَجِبْ لَكُمْ   غافر60
Dan Tuhan mu berfirman: Berdo’alah kepada Ku, niscaya akan Ku perkanankan  bagimu . Gofir  60.
            Khaliq swt sudah menyatakan dekat dan menantang kepada makhluknya  mau minta apa, maka makhluklah yang harus mau berhubungan dengan khaliknya hubungan timbal balik antara khalik sebagai yang berkepentingan berkeinginan dan khalik sebagai yang akan memberi  sesuatu yang diinginkan itu .

            Sudah beberapa contoh seperti ibunya Nabiyullah Musa as yang selalu ter ingat kepada anaknya yang sudah di bawa air sungai Nyl, beliau terus ber rabitah  kepada Allah ingin agar ketemu dengan anaknya, maka Allah mengijabah, dan Musa as menyusu kepada ibunya karena disusukan oleh  ibu-ibu yang lain tidak mau. Hal yang demikian adalah karena ibunya Musa as melakukan Rabitah dengan wuquf qolbynya benar benar  maka hasilnya pun memuaskan . 

          Rabitoh disini ialah selalu mengkaitkan diri kepada Allah, tidak lepas dari menyebut nama Allah, walaupun menyebutnya tidak dengan menggunakan frekwansi artinya tidak bersuara. Tetapi Allah Maha mendengar walaupun hanya berupa getaran jantung atau getaran hati saja. Wuquf qolby dimaksudkan qalbunya menduduki makom do’a yang terus terus  sesuai getaran  dengan tidak menyeleweng sedikitpun . 

Maka pendeknya rabitoh wuquf qolbi adalah kita berdo’a dengan tenang  (tidak tergoyahkan) apapun untuk mencapai tujuan, berdo’a lahir bathin, bukan hanya berdo’a lahirnya saja, batinnya tertinggal. seperti diterangkan dalam hadits Tabrani
قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ  تَعَوّذُوْا بِاللهِ مِنْ خُشُوْعِ النِّفَاقِ وَقَالَ وَمَا خُشُوْعُ النِّفَاقِ
 يَا رَسُوْلَ اللهِ قاَلَ  خُشُوْعُ اْلبَدَنِ نِفَاقُ اْلقَلْبِ . رواه الطبرانى
Nabi saw bersabda: Mintalah perlindungan dari husyu’un nifaq sahabat bertanya: apa itu khusyu’un nifaq ya Rasulallah? Jawab Rasulullah saw husyu’ badan dan mu nafiq  kalbunya. HR Tabrani . 

            Untuk menjaga husyu badan dan tidak munafik kalbunya adalah dengan melalui praktek Tarekat Qodiriyah  wn Naqsyabandiyah .

            Sumber : Kharisudin Aqib

Khirqoh


Khirqoh
            Khirkoh adalah berasal dari bahasa Arab Kharaqa khirqan, yang ma’nanya  merobek. Seperti kharaqa tsaoban (orang itu telah merobek pakaian ). Arti kedua dalam bahasa Arab menembus  seperti  ikhtaraqa as syaia  ( menembus sesuatu ). Arti ketiga menusuk seperti kharaqa fulan bir rumhi (si Fulan menusuk dengan tombak ). Arti keempat mereka-reka seperti kharaqa Zaidun shana’ahu (si Zaid mereke-reka buatannya).Arti kelima bertentangan/melampaui/berbeda Kharaqa‘Amrun al‘adah (prilaku ‘Amr bertentangan /melampaui/ berbeda dengan kebiasaan orang) dan banyak lagi ma’na–ma’na lain sesuai dengan rangkaian kata kata dalam bahasa Arab  (siyaqul kalam ).Dalam Al Qur’an lafad kharaqa diartilan  melobangi
فَانْطَلَقَا حَتّىَ اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا  . الكهف 71
Maka berjalanlah keduanya, hingga  tatkala  keduanya  menaiki perahu lalu Khaidir  melobangi nya .  Al Kahfi 71

Dalam ayat lain  mempunyai ma’na bohong  seperti
وَجَعَلوُا للهَ شُرَكاَء َالْجِنّ ِوَخَلَقَهُمْ وَخَرَقوُا لَهُ  بَنِيْنَ  وَبَنَتِ  بِغَيْرِ عِلْمٍ  الانعام 100
Dan mereka (orang orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa berdasar ilmu pengetahuan .  Al  An’am  100.


Dalam sehari hari bila berbicara keanehan tingkah laku seorang anak yang kadang kadang bertindak tidak sama dengan kawan kawannya, disebut juga dengan khawariqul ‘adat, yang artinya adalah berbeda tindakannya dengan yang lain. Tetapi walaupun tindakan anak itu berbeda dia menunjukkan kecerdasannya bukan menun jukkan hal hal yang negatip.
            Diantara contoh khawariqul ‘adat ialah ;
Seorang anak yang kalau dia tidur, dia tidak kenal waktu, seperti selama seminggu dia tidur dengan badan (fisik) tetap segar, kelihatan oleh kita dia tidak melakukan shalat, kalau dia tidak mau tidur walaupun seminggu dia tidak pernah tidur baik siang ataupun malam, tetapi dikala dia tidak tidur dia terus terus membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuannya, hasilnya memang dia menjadi orang yang pintar dalam ilmu ilmu yang dia pelajari. Contoh lain seorang anak sangat senang sekali menaiki sapi (lembu) sehingga walaupun dia kekota lembu itu harus dibawanya padawaktu belajar kelihatannya sangat sederhana sekali, tetapi kenyataannya dia pandai banyak ilmu yang kelihatannya oleh orang banyak belajarnya sangat sedikit. Contoh lain Imam Syafi’i seorang mujtahid mutlaq yang diakui oleh dunia, sehingga mendapat julukan atau titel Mujtahid dan pendapat-pendapatnya sangat banyak diikuti oleh kaum muslimin serta diakui sebagai Madhab dalam ilmu fikih. Diwaktu kecilnya  beliau  sejak umur 3 tahun sudah hafal Al Qur’an. Contoh lain seorang anak kecil kalau bermain dengan kawan-kawannya selalu diikuti oleh kawan kawan nya, sehinga apapun yang diperintahkan kepada kawannya, kawannya pasti setuju dan mau  melaksanakannya .
Dari beberapa contoh khawariqul‘adah kita dapat megambil satu kesimpulan  bahwa orang yang pandai atau seorang pemimpin sudah dapat dilihat oleh kita semenjak dia masih kanak kanak, tetapi apakah yang dia dapati dalam keilmuan itu akan terpupuk /dipupuk dengan pupuk yang bagus atau dipupuk dengan pupuk yang negatip. Kalau ternyata dipupuk dengan pupuk yang bagus maka dia akan tumbuh dengan bagus dan kalau dipupuk dengan pupuk yang jelek dia akan jadi manusia yang jelek .
            Hal pemupukan itu hanyalah usaha manusia, dimana manusia berkewajiban untuk berusaha dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya, karena hakekatnya  Allah lah yang menentukan, namun kalau kita tidak usaha berarti kita tidak mau  menggunakan  fikiran /akal kita yang Al Qur’an telah mengatakan
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى اْلاَعْمَى وَالْبَصِيرْ  اَفَلاَ تَتَفَكَّرُونْ  الانعام 50
Katakanlah: apakah sama orang yang buta dengan dengan orang ang  melihat ?  Maka apakah kamu tidak memikirkannya  . Al An’am 50
قُلْ  هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعءلَمُوْنَ وَالَّذِيْنض لاَيَعْلَمُونْ  الزمر 9
Katakanlah: apakah sama  orang orang yang  mengerti (berilmu) dengan orang orang yang tidak mengerti (bodoh).  Az Zumar 9.
           
            Kita mengenal juga tentang usaha menghindari kesulitan, dan tentang bagai mana meyakinkan kepada orang lain agar dia pada sesuatu yang dihadapinya mau meyakininya atau tidak. Karena adakalanya seorang melakukan suatu pekerjaan atau tugas tetapi hatinya tidak yakin bahwa yang dikerjakan itu akan berhasil padahal seharusnya dia melakukan suatu pekerjaan yang sedang dilakukan harus punya keyakinan bahwa pekerjaan itu adalah benar nantinya akan selesai .
            Sejak para nabi telah diberikan mukjizat untuk mengalahkan musuh, baik mengalahkan dalam arti moral atau mengalahkan dalam arti fisik atau dua-duanya. Mukjizat hanyalah keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada nabi Nya, dan muk jizat tidak sama persis dengan dengan karamah, karena memang yang memilikinya juga pangkatnya tidak sama. Mukjizat memiliki unsur 4 yaitu:1. Ada suatu hal yang  terjadi diluar kebiasaan.2. Nampak pada diri seorang Nabi. 3.Ada tantangan bia sanya dari pihak-pihak yang menentang atau yang menyangsikan kedudukan seorang Nabi. 4.Tantangan tersebut tidak dapat di tandinginya oleh pihak musuh, atau menentang hal yang luar biasa tersebut tidak akan mampu. Contoh mukjizat Nabi Muhammad saw adalah Al Qur’an, Al Qur’an sebagai mukjizat ter besar Nabi Muhammad saw.tidak dapat dikalahkan sampai akhir zaman, baik dari susunan bahasa maupun dari kandungannya.

Tongkat mabi Musa as adalah sebuah mukjizat baginya, maka bagaimanapun Fir’aun berusaha dengan segala kemam puannya untuk mengalahkan Musa as tidak akan dapat Musa dikalahkan. Menyembuhkan orang buta adalah mukjizat Nabi Isa as.dll
وَلاَ يَحْسَبَنَّ  اَّلذِيْنَ كَفَرُواْ سَبَقُوْا اَنّهُمْ لاَيُعْجِزُونْ . الانفال 59
Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah) .Sesungguhnya mereka tidak tidak dapat  melemahkan (Allah).
            Karamah (keramat) adalah sebuah anugera Allah, pertolongan Allah,  kepada seorang hamba Nya.Dalam tasauf karomah berarti kejadian luar biasa, diluar pe ngalaman manusia biasa yang diberikan Allah  kepada para wali Nya. Orang orang su fi yakin bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat  ke gaiban-kegaiban dan kemampuan melakukan sesuatu  yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Keramat atau karomah sering terjadi dikalangan orang orang sufi  na mun dapat juga lahir dari seorang hamba Allah swt yang biasa, saleh, beritikad ber sih, dan tekun mengerjakan amal ibadah. Pengertian keramat di Indonesia  biasa digu nakan untuk orang-orang yang sudah mati, hal ini terjadi karena pada masa hidupnya sudah menunjukkan beberapa  keajaiban .
اَلآ اِنَّ اَوْلِيآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ ُهْم  يَخْزَنُزنْ   يونسى 62
Ingatlah,, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kehawatiran terhadap  mereka dan  tidak pula  mereka bersedih hati.  Yunus 62

          Dalam tasauf seorang Mursyid (pembimbing) atau lazim disebut seorang Syekh dan juga disebut seorang Guru, atau disebut Guru Mursyid, dalam meyakinkan muridnya itupun mempunyai cara tersendiri. Jadi antara seorang Mursyid dengan Mursyid yang lain biasanya selalu berbeda dalam menghadapi muridnya, walaupun perbedaan itu tidak keseluruhannya, tetapi hanyalah metoda yang beliau milikinya itu. Biasanya beliu menggunakan semacam karomah, sehingga murid yang tadinya kurang yakin atau bahkan tidak yakin akan ke Mursyidannya setelah terjadi karomah itu menjadi yakin. Hal yang seperti itu biasa disebut dengan hirqoh, yang hirqoh disini dapat diterjemahkan dengan baju/pakaian/sandang, yang diterapkan, dipakaikan dipasang dalam arti yang ma’nawi (abstrak), bukan pakaian atau baju dalam arti konkrit yang dapat dipegang dengan tangan. Diantara contoh pakaian ma’nawi yang dipasang atau diterapkan seorang Guru Mursyid kepada muridnya, agar muridnya lebih yakin ialah
            Seorang murid diajak oleh Mursyidnya berjalan di daerah rawan karena banyak buaya, masyarakat sekitar daerah tersebut mengetahui sehingga masyarakat  mengingatkan bahwa harus hati hati karena daerah tersebut adalah banyak buayanya. Seorang Mursyid tetap mengajak muridnya untuk melewati daerah itu, dengan  memesan ikuti saja saya, kemanapun, mudah mudahan sampai tujuan. Tat kala melalui daerah tersebut betul banyak buaya dilihatnya, tetapi mereka malah ber jalan  menginjak punggung punggung buaya yang beberapa puluh yang akhirnya sampailah ke tempaat tujuan . 
            Seorang murid yang diajak oleh Guru Mursyidnya menuju suatu tempat, Guru Mursyid itu membawa tongkat kemudian tongkat itu diberikan kepada muridnya agar membawakannya (teken /iteukl), murid mengikuti dibelakang Guru, ternyata terlihat oleh sang murid bahwa gurunya berjalan dengan kaki yang tidak sampai tanah (menggantung).
            Seorang yang tidak percaya bahwa seorang Mursyid itu betul betul seorang Mursyid. Disuatu waktu dia berangkat dengan mengendarai sepeda motornya menuju Mursyid tersebut, setelah sampai dia minta uang kepada Mursyid itu  untuk beli bensin karena memang tidak membawa uang, dan memang sengaja tidak bawa uang tetapi oleh Mursyid itu tidak diberi uang, bahkan bicara mau pulang silahkan saja pulang, kemudian terpaksa pulanglah dengan tangan hampa dan menggerutu sambil hatinya merasa waswas dan yakin bensinnya tidak akan cukup untuk sampai kerumah  Kenyataannya setelah sampai kerumah  bensin masih utuh seperti semula .
            Seorang murid yang baru diberikan talkin dzikir, kemudian pulang menuju rumahnya dengan naik sepeda, perjalanan yang sangat jauh itu dan jalan yang naik turun oleh sang murid dilaluinya dengan  tidak merasakan bahwa jalan itu naik atau turun, dia naik sepeda seperti pada jalan yang rata dengan kecepatan yang dirasakan normal–normal saja. Tetapi  setelah sampai di suatu tempat yang sangat jauh, dengan kebiasaan naik sepeda setengah hari, hanya ditenpuh dengan perjalanan satu jam saja dengan tidak merasa capek.
            Beberapa contoh itu mempunyai unsur menambah keyakinan muridnya bahwa  yang dihadapinya itu betul betul seorang Mursyid. Maka dapat dibedakan bahwa yang disebut karomah adalah dalam rangka mengatasi kesulitan atau tantangan Mursyid, tetapi Hirkoh adalah sesuatu yang meyakinkan muridnya bahwa kejadian itu adalah sebuah hirkoh Mursyidnya. Mudah mudahan contoh 2 tersebut membuahkan  manfa’at  untuk memepalari tasauf  kedua  ini .   

Sumber : Ensi dan MengenalTasauf.