Most Post

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya                 Masa KH Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh).                 Riwayat...

Minggu, 18 September 2011

Robitoh


Robitoh dari bahasa Arab yang kata dasarnya berasal dari robato yang  artinya mengikat, menghubungkan, menyambung, membalut, tabah, tekun, berhenti. Seorang penggembala kambing atau sapi atau ternak lainnya pada suatu waktu mengikatkan tali binatang itu dibawah pohon agar binatang itu tidak kemana mana, atau para penjual hewan dipasar hewan mengikatkan hewannya di pasak pasak (patok-patok )  yang sudah disediakan oleh  pengurus pasar. 

            Seorang guru mengikat muridnya dengan sebuah ilmu yang oleh gurunya dibe rikan agar murid itu melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk  gurunya.Bila perbuatan murid itu tidak sesuai dengan petunjuk gurunya maka perbuatannya  tidak dapat diterima, karena harus sesuai dengan aturan yang diberikan guru itu. Guru akan membawa murinya ke alam baqo kelak apabila murid itu mengikuti segala yang diberikannya, seperti halnya kereta api dengan sebuah lokomotip dapat membawa gerbong yang banyak dan muatan yang banyak, apabila gerbong-gerbong itu mengait ke lokomotip, sebaliknya apabila gerbong-gerbong itu tidak mengait maka tidak akan terbawa oleh lokomotip. 

            Didalam tasauf kita mengenal juga istilah rabitoh, wuquf qolby, robitoh kita kenal dengan pertalian/persambungan antara murid dengan gurunya, dalam hal seperti ini yang dimaksud dengan pertalian adalah bukan tali dalam bentuk konkrit melainkan tali yang abstrak karena diikatnya bukan dengan benda melainkan dengan sebuah janji setia atau biasa disebut bai’at, kadang disebut dengan talqin, atau ada juga yang menyebut tawajuh. Robitoh dalam tasawuf dapat diartikan juga dengan istilah pembuka pintu, dia yang membukakan pintu tetapi dia sendiri tidak masuk. Yang demikian oleh ulama dicontohkan waktu Rasulullah mi’raj, dimana beliau di barengi Jibril tetapi Jibril sendiri tidak menghadap Allah swt, Jibril cukup mengu sulkan membuka pintunya saja.

 Wuquf qolbi artinya kalbunya istiqomah berdzikir kepada Allah tidak putus-putus sedangkan anggauta badan lainnya bergerak terus–menerus sesuai dengan ke butuhan manusia. Wuquf qolbi arti secara harfiyah adalah wuquf itu sendiri  diam /berhemti dan arti qobly ialah kalbu, yang biasanya diterjemahkan hati, walaupun sebenarnyas kalau diterjemahkan yang benar adalah jantung, dan terjemahan seperti itu disebut terjemahan golabah, artinya secara umum orang menterjemahkan kalbu adalah  hati. 

            Bila pertalian itu terputus maka muatan yang sarat itu tidak terbawa, yang ringanpun tidak akan terbawa karena tidak mengait, apalagi yang sarat dan berat. Seorang sufi yang merasa tertinggal dari gurunya segera menyusul lagi agar selalu dapat berbarengan sebagaimana dalam Al Qur’an dianjurkan atau diperintahkan
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُواْ فَقَالوُا رَبُّنَا رَبّ ُالسَّمَوَاتِ وَالاَ ْرْضِ لَنْ نَدْعُوَا
مِنْ دُوْنِهِ اِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا اِذًا شَطَطً
Dan Kami telah meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka ber kata; Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak sekali kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh  dari kebenaran, S. Al-Kahfi : 14.

Dari ayat tersebut terdapat kisah Ashhabul Kahfi yang tertidur di sebuah guha  karena hatinya sudah merasa teguh dan kuat, merasa diikat oleh keyakinan, tidak mau tunduk kepada  penguasa yang musyrik  dikala itu.
وَاَصْبَحَ فُؤاَدُ اُمّ ِمُوْسَى فَرِغًا اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِ لَوْلاَ اَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لَتَكُوْنَ  مِنَ اْلمُؤْمِنِينْ
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa, sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia  tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). S.  Al-qoshosh : 10

Dari ayat surat Al Qoshosh mempunyai arti bahwa ibunya Nabiyullah Musa as  mera sakan ikatannya dengan anaknya  tetapi sang ibu tidak mau mengaku bahwa dia ada lah anaknya.
يَا أَيُّهَاالَّدِيْنَ أَمَنُواْ اْصبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوْا للهَ لَعَلَّكُمْ  تُفْلِحُونْ. ال عمران 200
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.  S.  Ali Imron :200

            Manusia punya kehendak, bagi yang mukmin adalah kalau mau minta pasti kepada Allah, kecuali kalau yang musyrik itu lain lagi. dalam Al Qur’an sudah di terangkan bahwa siapa saja kalau mau meminta mintalah kepada Allah, atau ber do’alah kepada Allah, dan Allah lah yang mengijabahnya
قاَلَ رَبُّكُمْ اْدعُوْنِى  اَسْتَجِبْ لَكُمْ   غافر60
Dan Tuhan mu berfirman: Berdo’alah kepada Ku, niscaya akan Ku perkanankan  bagimu . Gofir  60.
            Khaliq swt sudah menyatakan dekat dan menantang kepada makhluknya  mau minta apa, maka makhluklah yang harus mau berhubungan dengan khaliknya hubungan timbal balik antara khalik sebagai yang berkepentingan berkeinginan dan khalik sebagai yang akan memberi  sesuatu yang diinginkan itu .

            Sudah beberapa contoh seperti ibunya Nabiyullah Musa as yang selalu ter ingat kepada anaknya yang sudah di bawa air sungai Nyl, beliau terus ber rabitah  kepada Allah ingin agar ketemu dengan anaknya, maka Allah mengijabah, dan Musa as menyusu kepada ibunya karena disusukan oleh  ibu-ibu yang lain tidak mau. Hal yang demikian adalah karena ibunya Musa as melakukan Rabitah dengan wuquf qolbynya benar benar  maka hasilnya pun memuaskan . 

          Rabitoh disini ialah selalu mengkaitkan diri kepada Allah, tidak lepas dari menyebut nama Allah, walaupun menyebutnya tidak dengan menggunakan frekwansi artinya tidak bersuara. Tetapi Allah Maha mendengar walaupun hanya berupa getaran jantung atau getaran hati saja. Wuquf qolby dimaksudkan qalbunya menduduki makom do’a yang terus terus  sesuai getaran  dengan tidak menyeleweng sedikitpun . 

Maka pendeknya rabitoh wuquf qolbi adalah kita berdo’a dengan tenang  (tidak tergoyahkan) apapun untuk mencapai tujuan, berdo’a lahir bathin, bukan hanya berdo’a lahirnya saja, batinnya tertinggal. seperti diterangkan dalam hadits Tabrani
قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ  تَعَوّذُوْا بِاللهِ مِنْ خُشُوْعِ النِّفَاقِ وَقَالَ وَمَا خُشُوْعُ النِّفَاقِ
 يَا رَسُوْلَ اللهِ قاَلَ  خُشُوْعُ اْلبَدَنِ نِفَاقُ اْلقَلْبِ . رواه الطبرانى
Nabi saw bersabda: Mintalah perlindungan dari husyu’un nifaq sahabat bertanya: apa itu khusyu’un nifaq ya Rasulallah? Jawab Rasulullah saw husyu’ badan dan mu nafiq  kalbunya. HR Tabrani . 

            Untuk menjaga husyu badan dan tidak munafik kalbunya adalah dengan melalui praktek Tarekat Qodiriyah  wn Naqsyabandiyah .

            Sumber : Kharisudin Aqib

Khirqoh


Khirqoh
            Khirkoh adalah berasal dari bahasa Arab Kharaqa khirqan, yang ma’nanya  merobek. Seperti kharaqa tsaoban (orang itu telah merobek pakaian ). Arti kedua dalam bahasa Arab menembus  seperti  ikhtaraqa as syaia  ( menembus sesuatu ). Arti ketiga menusuk seperti kharaqa fulan bir rumhi (si Fulan menusuk dengan tombak ). Arti keempat mereka-reka seperti kharaqa Zaidun shana’ahu (si Zaid mereke-reka buatannya).Arti kelima bertentangan/melampaui/berbeda Kharaqa‘Amrun al‘adah (prilaku ‘Amr bertentangan /melampaui/ berbeda dengan kebiasaan orang) dan banyak lagi ma’na–ma’na lain sesuai dengan rangkaian kata kata dalam bahasa Arab  (siyaqul kalam ).Dalam Al Qur’an lafad kharaqa diartilan  melobangi
فَانْطَلَقَا حَتّىَ اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا  . الكهف 71
Maka berjalanlah keduanya, hingga  tatkala  keduanya  menaiki perahu lalu Khaidir  melobangi nya .  Al Kahfi 71

Dalam ayat lain  mempunyai ma’na bohong  seperti
وَجَعَلوُا للهَ شُرَكاَء َالْجِنّ ِوَخَلَقَهُمْ وَخَرَقوُا لَهُ  بَنِيْنَ  وَبَنَتِ  بِغَيْرِ عِلْمٍ  الانعام 100
Dan mereka (orang orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa berdasar ilmu pengetahuan .  Al  An’am  100.


Dalam sehari hari bila berbicara keanehan tingkah laku seorang anak yang kadang kadang bertindak tidak sama dengan kawan kawannya, disebut juga dengan khawariqul ‘adat, yang artinya adalah berbeda tindakannya dengan yang lain. Tetapi walaupun tindakan anak itu berbeda dia menunjukkan kecerdasannya bukan menun jukkan hal hal yang negatip.
            Diantara contoh khawariqul ‘adat ialah ;
Seorang anak yang kalau dia tidur, dia tidak kenal waktu, seperti selama seminggu dia tidur dengan badan (fisik) tetap segar, kelihatan oleh kita dia tidak melakukan shalat, kalau dia tidak mau tidur walaupun seminggu dia tidak pernah tidur baik siang ataupun malam, tetapi dikala dia tidak tidur dia terus terus membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuannya, hasilnya memang dia menjadi orang yang pintar dalam ilmu ilmu yang dia pelajari. Contoh lain seorang anak sangat senang sekali menaiki sapi (lembu) sehingga walaupun dia kekota lembu itu harus dibawanya padawaktu belajar kelihatannya sangat sederhana sekali, tetapi kenyataannya dia pandai banyak ilmu yang kelihatannya oleh orang banyak belajarnya sangat sedikit. Contoh lain Imam Syafi’i seorang mujtahid mutlaq yang diakui oleh dunia, sehingga mendapat julukan atau titel Mujtahid dan pendapat-pendapatnya sangat banyak diikuti oleh kaum muslimin serta diakui sebagai Madhab dalam ilmu fikih. Diwaktu kecilnya  beliau  sejak umur 3 tahun sudah hafal Al Qur’an. Contoh lain seorang anak kecil kalau bermain dengan kawan-kawannya selalu diikuti oleh kawan kawan nya, sehinga apapun yang diperintahkan kepada kawannya, kawannya pasti setuju dan mau  melaksanakannya .
Dari beberapa contoh khawariqul‘adah kita dapat megambil satu kesimpulan  bahwa orang yang pandai atau seorang pemimpin sudah dapat dilihat oleh kita semenjak dia masih kanak kanak, tetapi apakah yang dia dapati dalam keilmuan itu akan terpupuk /dipupuk dengan pupuk yang bagus atau dipupuk dengan pupuk yang negatip. Kalau ternyata dipupuk dengan pupuk yang bagus maka dia akan tumbuh dengan bagus dan kalau dipupuk dengan pupuk yang jelek dia akan jadi manusia yang jelek .
            Hal pemupukan itu hanyalah usaha manusia, dimana manusia berkewajiban untuk berusaha dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya, karena hakekatnya  Allah lah yang menentukan, namun kalau kita tidak usaha berarti kita tidak mau  menggunakan  fikiran /akal kita yang Al Qur’an telah mengatakan
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى اْلاَعْمَى وَالْبَصِيرْ  اَفَلاَ تَتَفَكَّرُونْ  الانعام 50
Katakanlah: apakah sama orang yang buta dengan dengan orang ang  melihat ?  Maka apakah kamu tidak memikirkannya  . Al An’am 50
قُلْ  هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعءلَمُوْنَ وَالَّذِيْنض لاَيَعْلَمُونْ  الزمر 9
Katakanlah: apakah sama  orang orang yang  mengerti (berilmu) dengan orang orang yang tidak mengerti (bodoh).  Az Zumar 9.
           
            Kita mengenal juga tentang usaha menghindari kesulitan, dan tentang bagai mana meyakinkan kepada orang lain agar dia pada sesuatu yang dihadapinya mau meyakininya atau tidak. Karena adakalanya seorang melakukan suatu pekerjaan atau tugas tetapi hatinya tidak yakin bahwa yang dikerjakan itu akan berhasil padahal seharusnya dia melakukan suatu pekerjaan yang sedang dilakukan harus punya keyakinan bahwa pekerjaan itu adalah benar nantinya akan selesai .
            Sejak para nabi telah diberikan mukjizat untuk mengalahkan musuh, baik mengalahkan dalam arti moral atau mengalahkan dalam arti fisik atau dua-duanya. Mukjizat hanyalah keluarbiasaan yang diberikan Allah kepada nabi Nya, dan muk jizat tidak sama persis dengan dengan karamah, karena memang yang memilikinya juga pangkatnya tidak sama. Mukjizat memiliki unsur 4 yaitu:1. Ada suatu hal yang  terjadi diluar kebiasaan.2. Nampak pada diri seorang Nabi. 3.Ada tantangan bia sanya dari pihak-pihak yang menentang atau yang menyangsikan kedudukan seorang Nabi. 4.Tantangan tersebut tidak dapat di tandinginya oleh pihak musuh, atau menentang hal yang luar biasa tersebut tidak akan mampu. Contoh mukjizat Nabi Muhammad saw adalah Al Qur’an, Al Qur’an sebagai mukjizat ter besar Nabi Muhammad saw.tidak dapat dikalahkan sampai akhir zaman, baik dari susunan bahasa maupun dari kandungannya.

Tongkat mabi Musa as adalah sebuah mukjizat baginya, maka bagaimanapun Fir’aun berusaha dengan segala kemam puannya untuk mengalahkan Musa as tidak akan dapat Musa dikalahkan. Menyembuhkan orang buta adalah mukjizat Nabi Isa as.dll
وَلاَ يَحْسَبَنَّ  اَّلذِيْنَ كَفَرُواْ سَبَقُوْا اَنّهُمْ لاَيُعْجِزُونْ . الانفال 59
Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah) .Sesungguhnya mereka tidak tidak dapat  melemahkan (Allah).
            Karamah (keramat) adalah sebuah anugera Allah, pertolongan Allah,  kepada seorang hamba Nya.Dalam tasauf karomah berarti kejadian luar biasa, diluar pe ngalaman manusia biasa yang diberikan Allah  kepada para wali Nya. Orang orang su fi yakin bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat  ke gaiban-kegaiban dan kemampuan melakukan sesuatu  yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Keramat atau karomah sering terjadi dikalangan orang orang sufi  na mun dapat juga lahir dari seorang hamba Allah swt yang biasa, saleh, beritikad ber sih, dan tekun mengerjakan amal ibadah. Pengertian keramat di Indonesia  biasa digu nakan untuk orang-orang yang sudah mati, hal ini terjadi karena pada masa hidupnya sudah menunjukkan beberapa  keajaiban .
اَلآ اِنَّ اَوْلِيآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ ُهْم  يَخْزَنُزنْ   يونسى 62
Ingatlah,, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kehawatiran terhadap  mereka dan  tidak pula  mereka bersedih hati.  Yunus 62

          Dalam tasauf seorang Mursyid (pembimbing) atau lazim disebut seorang Syekh dan juga disebut seorang Guru, atau disebut Guru Mursyid, dalam meyakinkan muridnya itupun mempunyai cara tersendiri. Jadi antara seorang Mursyid dengan Mursyid yang lain biasanya selalu berbeda dalam menghadapi muridnya, walaupun perbedaan itu tidak keseluruhannya, tetapi hanyalah metoda yang beliau milikinya itu. Biasanya beliu menggunakan semacam karomah, sehingga murid yang tadinya kurang yakin atau bahkan tidak yakin akan ke Mursyidannya setelah terjadi karomah itu menjadi yakin. Hal yang seperti itu biasa disebut dengan hirqoh, yang hirqoh disini dapat diterjemahkan dengan baju/pakaian/sandang, yang diterapkan, dipakaikan dipasang dalam arti yang ma’nawi (abstrak), bukan pakaian atau baju dalam arti konkrit yang dapat dipegang dengan tangan. Diantara contoh pakaian ma’nawi yang dipasang atau diterapkan seorang Guru Mursyid kepada muridnya, agar muridnya lebih yakin ialah
            Seorang murid diajak oleh Mursyidnya berjalan di daerah rawan karena banyak buaya, masyarakat sekitar daerah tersebut mengetahui sehingga masyarakat  mengingatkan bahwa harus hati hati karena daerah tersebut adalah banyak buayanya. Seorang Mursyid tetap mengajak muridnya untuk melewati daerah itu, dengan  memesan ikuti saja saya, kemanapun, mudah mudahan sampai tujuan. Tat kala melalui daerah tersebut betul banyak buaya dilihatnya, tetapi mereka malah ber jalan  menginjak punggung punggung buaya yang beberapa puluh yang akhirnya sampailah ke tempaat tujuan . 
            Seorang murid yang diajak oleh Guru Mursyidnya menuju suatu tempat, Guru Mursyid itu membawa tongkat kemudian tongkat itu diberikan kepada muridnya agar membawakannya (teken /iteukl), murid mengikuti dibelakang Guru, ternyata terlihat oleh sang murid bahwa gurunya berjalan dengan kaki yang tidak sampai tanah (menggantung).
            Seorang yang tidak percaya bahwa seorang Mursyid itu betul betul seorang Mursyid. Disuatu waktu dia berangkat dengan mengendarai sepeda motornya menuju Mursyid tersebut, setelah sampai dia minta uang kepada Mursyid itu  untuk beli bensin karena memang tidak membawa uang, dan memang sengaja tidak bawa uang tetapi oleh Mursyid itu tidak diberi uang, bahkan bicara mau pulang silahkan saja pulang, kemudian terpaksa pulanglah dengan tangan hampa dan menggerutu sambil hatinya merasa waswas dan yakin bensinnya tidak akan cukup untuk sampai kerumah  Kenyataannya setelah sampai kerumah  bensin masih utuh seperti semula .
            Seorang murid yang baru diberikan talkin dzikir, kemudian pulang menuju rumahnya dengan naik sepeda, perjalanan yang sangat jauh itu dan jalan yang naik turun oleh sang murid dilaluinya dengan  tidak merasakan bahwa jalan itu naik atau turun, dia naik sepeda seperti pada jalan yang rata dengan kecepatan yang dirasakan normal–normal saja. Tetapi  setelah sampai di suatu tempat yang sangat jauh, dengan kebiasaan naik sepeda setengah hari, hanya ditenpuh dengan perjalanan satu jam saja dengan tidak merasa capek.
            Beberapa contoh itu mempunyai unsur menambah keyakinan muridnya bahwa  yang dihadapinya itu betul betul seorang Mursyid. Maka dapat dibedakan bahwa yang disebut karomah adalah dalam rangka mengatasi kesulitan atau tantangan Mursyid, tetapi Hirkoh adalah sesuatu yang meyakinkan muridnya bahwa kejadian itu adalah sebuah hirkoh Mursyidnya. Mudah mudahan contoh 2 tersebut membuahkan  manfa’at  untuk memepalari tasauf  kedua  ini .   

Sumber : Ensi dan MengenalTasauf.

Wali Songo


Wali songo (sembilan wali)
            Sembilan ulama yang merupakan pelopor dan pejuang pengembangan Islam (Islamisasi) di pulau Jawa pada abad kelima belas (masa kesultanan Demak).Kata wali (Arab) antara lain berarti pembela, teman dekat, dan pemimpin, dalam pema kaiannya, wali biasanya diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah swt (waliyullah). Sedangkan kata songo (Jawa) berarti sembilan. Maka walisongo secara umum diartikan sebagai sembilan wali ang dianggap telah dekat dengan Allah swt, terus menerus beribadah kepada Nya serta memiliki kekeramatan  dan kemampuan kemampuan  lain diluar kebiasaan manusia .
           
Dalam penyiaran Islam di Jawa Walisongo dianggap sebgai  kepala kelompok dari sejumlah besar mubalig Islam yang mengadakan dakwah didaerah daerah  yang belum memeluk Islam. Mereka adalah:1. Sunan Gresik, 2. Sunan Ampel, 3 Sunan Bonang, 4.Sunan Giri, 5.Sunan Drajat, 6.Sunan Kalijaga, 7 Sunan Kudus, 8.Sunan Muria, 9 Sunan Gunung Jati. Namun masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan ahli sejarah tentang nama nama mereka yang termasuk kelompok sembilan wali tersebut. Secara singkat, apa dan siapa para walisongo, tersebut telah diberikan di sekolah-sekolah pada pelajaran sejarah
            Sumber : Ensi.

Wali Dalam Kalangan Sufi


Wali dalam kalangan Sufi .
Orang kudus orang yang ada dibawah perlindungan khusus .Dalam literatur orientalis
biasa disebut  saint .
            Teori perwalian dalam kalangan sufi baru muncul pada akhir abad  kesem bilan ketika sufi-sufi ahli tasauf yakni al Kharraj, Sahl at Tustari dan Hakim at Tirmidzi menulis tentang itu. Abu Qosim Abdul Karim al Qusyairi mengartikan wali dengan pengertian pasif, yaitu seorang yang diurutkan urusannya (tuwulliya), dan dalam pengertian aktif yaitu orang yang melakukan kepatuhan kepada Tuhan; wali-wali (auliya)  diartikan sebagai teman teman Tuhan seperti disebut dalam surat Yunus 62
اَلآ اِنّ اَوْلِيَآ ءَ اللهِ لاَخَوءفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونْ
 Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kehawatiran terhadap mereka  dan tidak (pula ) mereka bersedih hati  Yunus 62
           
Seorang tokoh sufi pada awal abad kesepuluh Abu Abdullah as Salimi , mengemukakan definisi wali sebagai berikut: mereka yang dapat dikenali  karena bicara mereka yang baik-baik,tingkah laku yang sopan dan merendahkan diri, murah hati, tidak suka berselisih dan menerima permintaan  ma’af dari siapa saja  yang memina ma’af kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan,baik yang bagus maupun yang jelek.

            Menurut Ibnu Arobi seseorang bisa disebut wali apabila ia sudah mencapai tingkatan makrifat (dalam literatur barat disebut gnosis), tingkatan tertingi  dalam kalangan tasauf akhlaqi. Kaum sufi yakin bahwa makrifat (gnosis) bukan hasil pe mikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan; makrifat merupakan pemberian Tuhan kepada seorang sufi yang dipandang sanggup meneri manya .

            Menurut al Qusyairi ada tiga alat untuk mencapai makrifat, yakni qolb atau kalbu (sering diterjemahkan dengan hati) untuk mengetahui sifat sifat Tuhan, roh (rohani) untuk mencintai Tuhan, dan sirr (sering diartikan dengan rahasia) yaitu alat paling halus yang ada pada manusia untuk melihat Tuhan. Imam al Gozali  mendefinisi kan makrifat dengan penglihatan terhadap rahasia rahasia ketuhanan ,pengetahuan terhadap susunan tata aturan  ketuhanan yang mencakup  seluruh yang wujud 

            Penertian wali dalam dunia sufi sering menekankan dimensi mistiknya ,Ma kom- makom (tingkatan) awal seperti tobat, waro’,fakir, sabar, tawakal,  dan rido  perlu diperhatikan dalam memahami  pengertian wali  dalam dunia sufi. 

            Dalam dunia sufi dikenal pula hirarki kekuasaan kerohanian Tingkatan tingkatan hirarki itu ditempati oleh para wali sesuai dengan tingkat kesempurnaan kewalian yang dicapainya.Tingkatan kekuasaan rohani tertinggi disebut qutub (poros) atau gaus (pertolongan ) ;qutub atau gaus itu dikelilingi oleh  tiga nuqob (pengganti), empat autad (tiang-tiang)  tujuh abror (saleh) ,empat puluh abdal  (para  pengganti)  ,tigaratus akhyar (para terpilih), dan empat ribu wali tersembunyi. Penguasa rohani itu berfungsi sebagai pemandu rohani kehidupan manusia. Kaum Syi’ah sering menghubungkan qutub/gaus ini dengan kedudukan imam imam yang tersembunyi .Sedangkan dalam kalangan Sunni ada yan menghubungkannya dengan Imam Mahdi Adapula yang mempunyai faham bahwa yang menduduki hirarki qutub/gaus adalah Malaikat Jibril dan Isrofil .

            Konsep wali dalam dunia sufi ini merupakan masalah yang kontroversial. Muhamad Abduh, misalnya dalam Tafsir Al Manar nya ketika menafsirkan ayat 62 surat Yunus, mengartikan wali (auliya) sebagai lawan dari musuh musuh Allah swt, seperti orang kafir dan orang musyrik.
            Wali atau auliya Allah swt, menurut Abduh adalah orang mukmin dan muttaqin (orang yang bertaqwa) sebagaiman ditunjukka pada ayat sesudahnya (Yunus 63). Konsep wali dalam pandangan sufi  menurut Abduh adalah hayalan belaka oleh sebab itu bid’ah dan sesat . 

            Ibnu Katsir juga dalam tafsirnya tidak menyinggung konsep wali dengan pendekatan sufi. Menurutnya wali Allah swt ialah orang orang yang beriman dan ber taqwa; barangsiapa yang taqwa, itulah wali Allah swt. Ia tidak takut terhadap apa apa  yang akan terjadi pada masa depan, termasuk hari akhirat, dan tidak menyesal  atas apa yang telah  diperbuatnya dimasa silam

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan wali Allah swt, Rasululla saw menjawab Wali Allah adalah orang orang yang diingatkan Allah melalui mimpi mereka HR Ahmad bin Hanbal. Hadits yang teksnya hampirserupa banyak diri wayatkan orang, misalnya dari Abi Duha (Muslim bin Hamadani Subaih w100H)dari Sa’id bin Juber (624-692), Wali /aulia Allah adalah  orang orang yang apabila mimpi diingatkan Allah. Hadits-hadits yang diriwayatkan melalui beberapa sanad ini meru pakan jawaban Rasulullah saw atas pertanyaan sahabat  berkaitan dengan surat Yunus  ayat 62 itu .

            Untuk mengambil jalan tengah mengenai kontroversi  pembicaraan tentang wali ada ulama yang membagi dua Wali/auliya atas wilayah al ‘ammah (kewalian umum) yaitu derajat kewalian yang dimilki oleh orang orang mukmin dan muttaqin pada umumnya, dan wilayah al khoshoh (kewlian khushus) yaitu orang orang tertentu  yang mencapai auliya dianugerahi derajat kewalian sebagaimana  dapat difahami dari  hadits Ibn Mas’ud tersebut diatas.Wali/auliya dalam kalangan sufi terlepas dari kontroversi pembicaraan tentang itu, termasuk dalam kategori wilayah al khoshoh. 


Pembagian waliyullah.
Ustadz Haji Ali Haji Muhammad  dalam bukunya  Mengenal Tasuf dan Tarekat me nyebutkan bahwa tingkatan wali  ada 36 tingkat . 1.Wali Qutub 2 Wali al Immah,3 Wali Autad,4 Wali Abdal, 5 Wali Nuqba, 6 Wali Nujba, 7Wali Hawari,8 Wali Rajbi, 9 Wali Khatami, 10 Rijalul Gaib,11 Rijalu Quwati Al Ilahiyaj,12 Rilau Hanani wal ‘Atfil Ilahy,13 Rijalu Haibah wal  Jalal, 14 Rijalu al Fathi, 15 Rijalu Ma’arij Al Ula, 16 Rijalu Tahtil Asfal, 17 Rijalu Imdadil Ilahi wal Kaon, 18 Ilahiyun Rah maniyun, 19 Rijalul Istitoolah, 20 Rijaalul Gina Billah, 21Rijalu ‘Ainut Tahkim waz Zawa id, 22 Rijalul Istiqoq, 23 Al Mulamatiyah, 24 Al Fuqoro, 25 Als Shufiyah, 26 Al ‘Ibaad, 27. Al Zuhaad, 28 Rijalul Maai, 29Al Afrood, 30 Al Umana, 31 Al Qurro, 32 Al Ahbab, 33 Al Muhaddatsun, 34 Al Akhilla, 35 Al Samro u, 36 Al Wirotsah.